Ini Pesan Kyai Kampung Untuk Kapolri

TALIWANG—Kapolri Jenderal Polisi Drs. H.M Tito  Karnavian, M.A., Ph.D  dijadwalkankan tiba dan berkunjung ke Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat dalam waktu dekat.

Kedatangan Kapolri menurut rencana akan menuju Pondok Pesantren Internasional Dea Malela besutan Prof. Dr. KH. Dien Syamsuddin, di Desa Pemangong Kecamatan Lenangguar.

Banyak harapan dan dukungan dari kunjungan mantan komandan Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) ini, salah satunya datang dari seorang Kyai Kampung asal Desa Seteluk Atas, Kabupaten Sumbawa Barat Dea Guru H. Zulkifli Daud.

Tokoh agama dan ulama alumni Pondok Pesantren Gontor itu mengingatkan  Kapolri agar membawa pesan dan kesan yang baik, tidak hanya bagi pondok pesantren Dea Malela namun seluruh pondok pesantren di tanah air.

Kapolri menurutnya, harus melihat pondok Dea Malela bukan karena ketokohan Dien Syamsuddin saja sebagai mantan ketua PP Muhammadiyah, namun melihat pondok sebagai pusat pendidikan dan kajian islam. Pondok bukan tempat mengajarkan kezaliman, permusuhan apalagi terorisme.

“Islam itu rahmatan lillalamin. Jadi mengajarkan damai, keindahan dan toleransi. Kajian islam semua mengajar hal itu, jadi penting bagi Kapolri memahami dan mendorong citra pondok, sebagai sarana mencerdaskan ummat terutama ahlak mental serta pembinaan hukum,”ujar, sosok kyai kampung yang dikenal memiliki pondok tak berpagar, di Seteluk, Rabu (19/10).

Maksud dari pondok tak berpagar menurut dea guru sapaan akrab ulama ini adalah, tanpa sekat, tanpa tembok atau kompleks atau di batasi gedung serta ruang yang megah. Pondok yang ia maksud, dimana santrinya langsung seluruh masyarakat dirumah rumah bahkan di manapun berada.

“Konsep pondok tak berpagar sebenarnya telah dipraktikkan Kapolri sendiri. Yakni melalui peran anggotanya melalui Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) di setiap pelosok desa di seluruh Indonesia. Kita lihat peran pembinaan agama juga dilakukan para bhabin ini, ada yang bangun masjid, mushola, bangun Taman Pendidikan Alqur’an (TPQ) serta bahkan menghibahkan tanahnya untuk syiar Islam,” ujarnya, memberi otokritik.

Zulkifli Daud bahkan mengatakan , kedatangan Kapolri justru mengingatkan sejarah bahwa tanah samawa ternyata memiliki beberapa dari 25 ulama Indonesia yang sudah mendunia. Dia adalah Syekh, Abdul Gani dan Syekh Zainuddin Pusu yang pernah menjadi imam besar di Masjidil Haram, Makkah. Bahkan ada seorang asli Tanah Samawa, dari Kecamatan Utan, Sumbawa Besar tercatat sebagai Jurnalis pertama yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia di Timur Tengah melalui tulisan tulisannya. Seperti di media Al-Khobar (kabar,red). Bahkan setiap karya tulisnya sang penulis menyebutkan inisialnya, yakni, Sukarno Shogir (Soekarno Kecil, red).

“Dia adalah Syekh Juned Sumbawa. Ia tercatat sebagai warga Saudi Arabia keturunan Sumbawa Indonesia. Bahkan syekh ini memiliki hubungan kekerabatan dengan Prof Dien Syamsuddin dan Bupati Sumbawa, Husni Jubril serta Drh. H. Zaidun Abdullah mantan asisten Pemkab Sumbawa,”tandasnya.

Bahkan ia menuturkan, banyak luteratur sejarah di Mesir yang menyebutkan, Profesor Dr Abdurrahman Azmi salah seorang tokoh kepercayaan pemerintah Mesir waktu itu tergugah hatinya setelah membaca tulisan syekh Juned Sumbawa. Ia bahkan rela menjadi koki di sebuah kapal milik VOC Belanda, hanya untuk membawa secarik surat pengakuan pertama pemerintah mesir terhadap kemerdekaan Indonesia. Untuk disampaikan kepada Presiden Soekarno waktu itu.

Terakhir, Zulkifli Daud meminta Kapolri sudah saatnya mulai memikirkan agar Dea Malela dan pondok pondok lainnya di Indonesia tidak hanya menjadi pusat pendidikan islam untuk generasi ke generasi. Tapi juga berfungsi untuk menjadi pusat pembinaan mental korban pengguna Narkotika, korban kejahatan terorisme serta korban korban kejahatan trans nasional. Atau kebih sederhana, pondok khusus rehabilitasi korban kejahatan trans nasional.

“Saya fikir pesan ini yang harus mulai disuarakan. Agar ummat tidak lagi memiliki prasangka bahwa pondok penyumbang lahirnya gerakan radikal atau terorisme. Polri harus melihat pondok justru menjadi perisai utama penangkal terorisme dan radikalisme,”demkian, Zulkifli Daud. (ZM.ndy-01)

Bagikan berita:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *