Aktivis Dukung Polri Tekan Kasus Pelecehan Sexsual Anak

Caption foto//Aktifis yang juga Wakil Direktur Balai Aspirasi Datu Seran, Ari Arfani.

SUMBAWA BARAT— Kasus pelecahan sexual utamanya pada anak anak dibawah umur trendnya mulai menonjol di Sumbawa Barat. Kondisi ini memicu reaksi masyarakat utamanya aktifis anti kekerasan sexual pada anak.

“Kita lihat trendnya naik ini. Kasus pelecehan sexual bagian dari masalah sosial yang memerlukan perhatian kita semua, masyarakat dan pemerintah daerah,” kata, Ari Arfani, wakil direktur  Balai Aspirasi Datu Seran, Selasa (5/3).

Menurut tokoh muda ini, ada pergeseran paradikma, karena apatisme kontrol sosial masyarakat dan peran pemerintah untuk mencegah serta mengedukasi kaum millenia kita yang terjebak dengan dampak buruk sosial media.

“Mudahnya mengakses sosial media dengan konten konten negatif menjadi pemicu. Penguasaan perangkat tehnologi bagi anak dibawah umur juga menjadi pemicu pergeseran perilaku buruk kaum millenia kita,” kritiknya.

Ari mendesak, perlunya sinergitas terpadu antara kepolisian, unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Dinas Pemberdayaan Perempuan serta dinas sosial bahkan kementerian agama. Utamanya, peran tokoh agama bisa menjadi daya gerak untuk mensosialisasikan pencegahan terhadap dampak pelecehan seksual pada anak.

“Ustad, ustazah serta Kepolisian dan pemerintah harus di libatkan membentuk unit terpadu untuk menekan tingginya kasus pelecahan Sexsual pada anak dibawah umur,” demikian, Ari.

Kapolres Sumbawa Barat, AKBP. Mustofa , S.I.K mengatakan, Kepolisian tetap akan memproses tersangka persetubuhan dengan anak dibawah umur dengan cepat. Ia juga mengatakan, polisi juga memberikan perlindungan terhadap saksi korban.

Mustofa memghimbau masyarakat untuk membantu mengawasi putra putrinya yang rentan menjadi korban Asusila atau persetubuhan.

“Proses terhadap tersangka sudah kita lakukan sesuai aturan tindak pidana. Ganjaran terhadap tersangka persetubuhan anak dibawah umur rata rata divonis diatas 9 tahun,” demikian, Mustofa.

Data kepolisian Sumbawa Barat menyebut, tren kasus pelecehan sexual terhadap anak cukup tinggi. Sepanjang tahun 2018 saja terdapat sedikitnya 17 kasus pelecehan sexual pada anak. Bahkan, awal tahun 2019 saja, sudah ada sedikitnya empat kasus pelecehan sexual pada anak.

Pelakunyaberagam, dari pria dewasa, pria lanjut usia hingga pemuda usia belia.

Pose, jajaran reskrim Polres Sumbawa Barat menahan tersangka pelaku persetubuhan anak dibawah umur (baju putih celana pendek, tengah, red).

“Kasus 2018 ada 17, dan 2019 ini terdapat empat kasus. Ini mengkhawatirkan kita semua. Kepolisian tetap menangani kasus ini dan menghukum pelaku sesuai undang undang yang berlaku,” kata, Kasat Reskrim, AKP. Muhaimin, S.I.K, di konfirmasi, Selasa hari ini.

Kasus terakhir, satuan reserse dan kriminal polres setempat, menangkap, RS, 19 tahun warga, Desa Jorok Tiram, Taliwang. Ia ditahan kepolisian setempat, karena diduga melakukan tindak pidana persetubuhan dengan anak dibawah umur, yang masih berstatus pelajar sekolah menengah pertama. (ZM.ndy-01)

Bagikan berita:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *