Aneh, Gubernur dan Menteri Jadi Jubir AMNT

Caption Foto//Menteri PMK, Puan Maharani dan Gubernur NTB, Dr. Zul Kieflimansyah berpose bersama Bupati Sumbawa Barat, H.W.Musyafirin di sela sela puncak perayaan Hari Lahir (Harla) Sumbawa Barat ke 15, di KTC, Selasa (20/11).

 

Habis Jonan Kini Menteri PMK Janji Soal Smelter

SUMBAWA BARAT—Di hari lahirnya ke 15, Menteri koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Puan Maharani nampaknya menyikapi serius perlunya pembangunan Industri Pengolahan (Ekstraktif,red) di Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat.

Puan Maharani bahkan menyinggung pengembangan bandara setempat hingga soal industri pariwisata. Ia berbicara saat menyampaikan kata sambutan dihadapan sedikitnya ribuan masyarakat, Gubernur NTB Zulkiefli Mansyah dan pejabat tinggi daerah setempat.

“Sumbawa Barat banyak potensi. Bandara akan segera dibangun, smelter juga segera di bangun. Saya sengaja hadir karena ingin melihat potensi daerah ini,” ujar, Menteri Puan.

Gubernur Nusa Tenggara Barat, juga menekankan bahwa Smelter akan segera dibangun. Seperti gayung bersambut, Gubernur dan Menteri sama sama membahas tagline Smelter.

Ini menjadi trending topik di sosial media pasca kedatangan dua tokoh penting di republik ini. Gubernur berpandangan, smelter harus dipercepat karena akan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Smelter adalah masa depan bagi Sumbawa Barat dan akan menjadi destinasi menarik bahkan akan menjadi industrial kompleks. Smelter akan butuh pembangkit listrik nomor satu, bandara kelas satu, dermaga kelas satu dan fasilitas kelas satu lainnya.

Itu artinya, menurut Gubernur, seluruh elemen bangsa akan hadir di Sumbawa Barat. Namun, ia berpesan, kita tidak boleh menjadi penonton di negeri sendiri. Oleh karenanya Smelter sebagai masa depan Sumbawa Barat butuh perenungan yang panjang.

Hadirnya smelter di daerah ini, kata Zulkiefli Mansyah akan bermertamorposis menjadi replika mini indonesia. Sehingga bukan hanya beberapa suku yang akan kita lihat di masa depan tetapi seluruh suku bangsa Indonesia akan hadir di KSB dan NTB ini.

” Itulah sebabnya, program Gemilang mengirimkan 1000 berkuliah di Luar Negeri sebagai upaya meningkatkan daya saing manusia NTB sehingga kita tidak lagi menjadi penonton di negeri sendiri,” demikian, Gubernur.

Sebelum Puan Maharani, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignatius Jonan bahkan deputi dan dirjennya menegaskan bahwa Smelter akan di bangun. Pemerintah akan memberi tenggat waktu hingga tahun 2022 mendatang sebagai batas akhir.

Jonan dalam catatan pers berjanji akan mengevaluasi progress Smelter setiap enam bulan sebelum perpanjangan izin eksport di berikan. Ia bahkan berjanji akan mengirim tim khusus untuk memantau langsung. Sejak Permen No 1 tahun 2017 tentang relaksasi perpanjangan eksport seharusnya progress Smelter sudah dimulai sejak Januari 2017.

Namun hingga akhir 2018 Smelter masih sebatas rencana. Belum ada realisasi izin satupun di jalankan PT. Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT). Sementara perpanjangan izin eksport terus di berikan pemerintah. Dirjen Minerba telah menebar ancaman akan mencabut izin eksport perusahaan jika tidak tunduk dengan permen tersebut. Tapi nyatanya, ancaman itu hoax belaka.

“Seharusnya yang janji itu bukan menteri saja. Otoritas AMNT juga rilis ke publik apa yang sudah mereka lakukan. Ini kok AMNT santai santai aja. Kok Gubernur dan Menteri ramai ramai jadi juru bicara AMNT,” kritik, Sahril Amin, raja muda Sumbawa.

Sahril adalah aktifis dan mantan anggota DPRD Sumbawa Barat. Ia salah satu tokoh yang ikut melaporkan skandal divestasi saham PT.Newmont Nusa Tenggara ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sehingga sempat membuka tabir aliran dana jaringan Coorporasi Bakrie Grup ke rekening pribadi Gubernur NTB waktu itu.

Sahril menegaskan, Jonan waktu itu mengutarakan statmen di hadapan publik soal janji progres Smelter. Ini dipertanggung jawabkan. Sahril menegaskan, statemen Puan Maharani dan Gubernur tidak berkolerasi langsung terhadap progress dibangunnya Smelter.

” Yang punya otoritas bicara Smelter ini bukan Puan Maharani. Ada menko lain yang membawahi ESDM. Gubernur dan Menteri kita ini jadi juru bicara perusahaan. Yang ngomong itu perusahaan dong. Kok yang berbicara menteri dan gubernur sih,” kata, Sahril Amin, Raja Muda Sumbawa ini.

Sebelumnya, anak buah Menteri ESDM, Igantius Jonan melalui Direktur Jenderal (Dirjen) Mineral dan Batu Bara, menebar ancaman bagi perusahaan nakal dan tidak serius membangun Smelter.

“Jadi kita ingin melihat keseriusan perusahaan tambang dalam membangun smelter. Kalau gak berhasil ya, nanti itu masuk dalam penilaian, walaupun betul membangun, tapi gak serius bisa saja kan, cabut aja ijin ekspornya,” Dirjen Minerba Kemen ESDM, Bambang Gatot Aryono, di Kantor Kementerian ESDM, Selasa (22/8/2017) sumber teropongsenayan.com.

Smelter Seperti Mendulang Angin

Beginilah peta Masterplant kawasan pembangunan Smelter di Kecamatan Maluk, Batu Hijau, yang diajukan PT. AMNT.

Sementara itu, media telah menerima laporan perencanaan dan data peta kawasan Smelter yang diajukan PT.AMNT, ke pemerintah pusat. Dalam peta kawasan yang dirilis baru baru ini itu, diketahui seluruh Kecamatan Maluk, Sumbawa Barat di laporkan terdampak area pembangunan Smelter ini.

Disinyalir ada puluhan ribu jiwa akan di relokasi, termasuk lahan pertanian, pasar, bandara serta seluruh infrastruktur pemerintah. Jika ini terjadi, maka biaya yang timbul untuk relokasi sangatlah besar. Baik relokasi ekonomi, pemukiman dan sosial.

Tentu ini tidak semudah dibayangkan. Kontan saja, peta kawasan ini memicu kekisruhan di lingkar tambang. Harga tanah naik dan konflik soal kompensasi menimbulkan berbagai spekulasi. Di sisi lain, AMNT tidak bergeming serta masih saja bungkam soal ini. (ZM.ndy-01)

Bagikan berita:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *