Belajar Kaya Dari Budidaya Udang Tradisional

Ternyata, untuk menjadi pembudidaya  udang tradisional yang sukses, tidak perlu berfikir rumit.

Abdul Afwan, S.Pi, Kepala Seksi Budidaya dan Usaha Dinas Kelautan Perikanan (DKP) Sumbawa Barat.


SEKONGKANG —-Potensi perikanan khususnya budidaya kini menjadi komuditas yang paling banyak dibutuhkan pasar lokal dan internasional. Salah satunya udang.

Udang menjadi kebutuhan konsumsi yang cukup besar.  Di Sumbawa Barat, udang budidaya menyumbang sekitar 20 persen serapan konsumsi perikanan selain ikan air tawar seperti Nila dan Lele.

Hanya saja, dewasa ini masyarakat lebih banyak menilai budidaya udang sangat padat modal. Investasi besar dan perlu management pengelolaan produksi yang rumit. Sebut saja, pakan, pembuatan tambak, listrik,  bahan bakar minyak, uji labolatorium dan pembuatan bakteri guna menetralisir air dan pertumbuhan plankton.

P_20170119_134504
Kepala Seksi (Kasi) Budidaya dan Usaha, Dinas Kelautan Perikanan (DKP) Sumbawa Barat, Abdul Afwan, S.Pi.

Ternyata, untuk menjadi pembudidaya  udang tradisional yang sukses, tidak perlu berfikir rumit.

Abdul Afwan, S.Pi, kepala seksi produksi dan usaha, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sumbawa Barat punya solusi. Sejak tahun 2015, menurut Abdul Afwan pemerintah setempat sudah mulai fokus mendampingi dan membina program budidaya udang jenis Vanamei.

“Kita mulai dengan memprogramkan pembuatan tambak, menyediakan pakan dan bibit atau Benur,” kata dia, kepada wartawan, di Sekongkang, di sela sela kegiatan panen udang kelompok Muara Sekongkang, Kamis ( 19/1) lalu.

Data instansi ini menyebutkan setidaknya ada kurang lebih 100 ribu hektar potensi lahan budidaya udang jenis ini. Namun yang baru di garap kurang dari 20 hektar saja. Ini terjadi akibat berkembangnya minset masyarakat bahwa budidaya udang padat modal dan rumit tadi.

Afwan mencontohkan kelompok budidaya udang di Desa Goa Kecamatan Jereweh. Disana ada lebih dari 10 hektar tambak yang sudah terbudidaya. Awalnya, pemerintah memprogramkan alokasi anggaran guna membuka tambak baru, dibantu pakan dan benur atau bibit udang.

P_20170119_124622
Kawasan budidaya tambak kelompok Muara Sekongkang, Desa Sekongkang Bawah Kecamatan Sekongkang.

Program budidaya udang rakyat itu, kini menghasilkan rata rata satu ton udang vanamei per petaknya. rata rata produksi Udang tambak rakyat tradisional tadi menghasilkan bobot berat 90 ekor perkilogram. Itu dihasilkan hanya dalam waktu 70 hari saja.

“Sekarang harga udang bobot 90 ekor perkilogram itu mencapai Rp 50 hingga 70 ribu perkilogram. Artinya jika dikalkulasikan rata rata, pembudidaya bisa menghasilkan uang sekitar Rp 50 juta perpetak “akunya.

Kebanyakan pembudidaya tradisional usai menebar bibit atau benur, kata Afwan, udangnya dilepas begitu saja. Dibiarkan menyesuaikan diri dengan kondisi alam dan karakteristik tanah tambaknya. Sesekali diberi pakan dan sisanya dibiarkan berkembang biak secara liar.

“Itupun masih bisa produksi. Jadi tinggal kemauan dan tekat saja,” kata dia.

Sekretaris DKP Sumbawa Barat, Muhammad Arifin mengatakan, dari karakteristik pengelolaannya, jenis budidaya udang dibagi tiga. Ada yang tradisional, semi intensif dan intensif. Semi intensif membutuhkan pengelolaan yang sedikit terencana. Mulai dari jumlah stok pakan, penggunaan kincir untuk membuat kualitas air dan pertumbuhan mikroorganisme yang mendukung perkembangbiakan udang cukup baik dan fasilitas tehnologi seperti mesin sedot dan lain lain.

P_20170119_124542
Kincir air diperlukan untuk menciptakan kualitas air dan mikroorganisme didalamnya yang mendukung bagi perkembangbiakan udang Vanamei.

Sementara budidaya intensif membutuhkan padat modal tadi. Butuh tehnologi tinggi, cek labolatorium, suhu, dan berbagai peralatan dan mobiliasasi biaya tinggi. Namun budidaya jenis ini akan berproduksi secara intensif dan terus menerus.

“Ibarat peternakan ayam potong lah. Monitoringnya intensif, pakan dan vitamin harus intensif juga,” kata dia.

Saat ini, menurut Muhammad Arifin potensi  produksi udang vanamei di Sumbawa Barat sebenarnya cukup besar. Hanya saja, masih didominasi pasar eksport sementara kebutuhan pasar lokal belum terpenuhi. Inilah kata dia, yang menjadi peluang emas bagi masyarakat kita.

“Setahun terakhir produksi udang kita hanya 5 ton saja. Itu khusus konsumsi lokal. Ini menjanjikan tapi harus kita tingkatkan terus. Nah sekarang minat masyarakat akan budidaya tambak udang ini semakin baik. Dinas banyak menerima usulan kelompok masyarakat yang akan konsen ke usaha budidaya ini. Kita pasti bantu, “demikian, Muhammad Arifin.

Baharuddin Badung, 55 tahun, ketua kelompok budidaya udang Muara Sekongkang bersyukur usahanya membudidayakan tambak udang vanamei membuahkan hasil yang baik. Kini ia bisa menikmati keuntungan rata rata Rp 25 juta per petak hanya dalam waktu 70 hari saja. Baharuddin dan kelompoknya memiliki lima petak tambak. Sistem budidaya Baharuddin yakni semi intensif, jadi hanya kontrol pakan dan pemeliharaan mesin listrik untuk genset kincir, ia bisa menerima setengah keuntungan setelah dipotong biaya produksi.

“Perpetak kami bisa hasilkan uang Rp 50 juta. Dengan jumlah benur tebar 100 ribu ekor. Biaya pakan Rp 15 juta per 70 hari ditambah beli benur, kami bersih menerima keuntungan Rp 25 juta perpetak. Harga udang yang kami jual dari sini hanya Rp 50 ribu perkilogrmanya,” urai Baharuddin berbagi informasi sepeutar kiat kiatnya membudidayakan udang, di Sekongkang, pekan lalu.

Baharuddin mengaku ia berhasil setelah menerima program bantuan pembukaan tambak dan pendampingan dari pemerintah Sumbawa Barat melalui DKP  sejak tahun 2014 lalu. Kini ia dan keluarga serta kelompok usahanya semakin maju dari tahun ke tahun. Udang yang ia budidayakan kini terus di pasok ke pasar pasar tradisional di Sumbawa Barat bahkan hingga luar daerah. (ZM.ndy-01)

Bagikan berita:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *