Corona, Agama dan Aqidah

Bersama Dr. Tgh. Lalu. Ahmad Zainuri, MA., Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Mataram.

Mataram—Hawar mengenai corona telah menyebar ke seluruh pelosok dunia, tidak terkecuali Indonesia, dan NTB secara lebih khusus. Salah satu dampak Covid-19 menyebabkan ka’bah sepi pengunjung. Berita, media social santer memberikan keresahan akibat kericuhan ini, padahal ini bukan pertama kali Ka’bah sepi, melainkan sudah kesekian kalinya, bahkan mencapai angka 40-an kali.

Wabah penyakit seperti ini pernah terjadi juga di zaman Rasul SAW juga masa Sahabat, tha’un misalnya. Tha’un sendiri merupakan penyakit kulit sejenis kusta, dan sangat menular. Sempat pada masa itu penduduk negeri yang terkena penyakit menular dilarang keluar dari wilayahnya, serta orang dari luar dilarang untuk berkunjung sampai wabahnya telah hilang.

Selain itu, Dr. Tgh. Lalu Ahmad Zainuri, MA., menceritakan bagaimana Nabi SAW menangani sebuah wabah penyakit, antaralain yang harus dilakukan ialah:

1.Taqarrub

Taqarrub adalah mendekatkan diri kepada sang pencipta dengan menjalankan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.Inilah hal terpenting untuk disadari saat ini, sebab segala sesuatu ini, termasuk wabah covid-19 atau corona berasal dari Allah. Ia memberikan ujian kepada hambanya sebagai tanda cinta pada mahkluk ciptaanya yang bernama manusia. Orang yang beriman tentu percaya akan hal ini. Maka kita kembalikan pada Allah.

Pada dasarnya semua makhluk akan mengalami kebinasaan. Ketakutan akan kematian sebaiknya diwujudkan dengan lebih sering mengingat Allah, dan bertakwa padaNya. Jangan sampai karena phobia akan kematian, justru kita lupa pada pemilik nyawa. Akan sangat menyeramkan, jika kita kembali padaNya, dalam keadaan melupakanNya.

2. Bersabar

Dalam konteks wabah corona, sabar tidak diartikan dengan berdiam diri semata tanpa bertindak, namun semua kita, terutama masyarakat NTB harus menimbulkan kesadaran dalam diri atau awareness . Sebagai warganegara yang tinggal di Indonesia khususnya di NTB, maka kita sebaiknya mengikuti instruksi pemerintah, baik itu seperti menjaga jarak, menerapakan pola hidup bersih dan sehat, sampai jika salah satu dari kita sedang sakit agar menjaga jarak dengan public untuk menghindari masalah lebih besar demi kemaslahatan.

3. Perbanyak Sedekah

دَاوُوْا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ
“Obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah.”
( HR. Abu Dawud, Hadits Hasan ).

Rumus yang Rasul SAW ajarkan dalam menghadapi penyakit dan musibah ialah perbanyak berbuat kebaikan, terutama sedekah. Jangan karena takut terjangkit, justru semakin pelit dengan orang lain. Jangan karena takut, kita asingkan diri dari orang lain dengan menimbun bahan pokok, apalagi sampai menimbun masker dengan tujuan keuntungan pribadi. Jika telah sampai keranah menimbun, jatuhnya keburukan di hadapan Allah SWT. kita pasti mati, namun bagaimana kita membawa bekal sebelum dijemput kematian.

4. Berdo’a

Sebab kita yakin semua dari Allah maka kita memintapun hanya kepada Allah, salah satu do’a yang nabi ajarkan ialah:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِك
Allahumma inni a’uzu bika min zawali ni’matika wa tahawwuli ‘afiyatika wa fuja-ati niqmatika wa jami‘i sakhotika.

“Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari hilangnya nikmat yang telah Engkau anugerahkan dan lunturnya keselamatan yang telah Eng¬kau berikan kepadaku. Dan aku berlindung ke¬padaMu dari datangnya musibah dan segala murkaMu yang datang secara tiba-tiba.”

Allahu’alam. (ZM.Win)

Bagikan berita:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *