Dari Hutan Pusuk Hingga Ke Amazon

Laporan Awin Azhari-LOBAR

 

M. Rizani (kiri) Ketua UKM Desa Pusuk bersama kontributor lapangan zonamerah.net (kanan)

Tiga ribu gelas tradisional yang terbuat dari bambu kering berisi Tuak manis disajikan dalam Festival Pusuk Lestari 2019, Minggu (24/11).

Pagelaran ini berhasil menyedot perhatian turis. Disajikan dengan gelas bambu, tuak manis terlebih dahulu disuling langsung dari pohon penghasil tuak di hutan Pusuk, dataran tinggi yang menjadi obyek wisata favorit turis dan warga setempat.

Bukan saja di Lombok, kini tuak juga hadir mewarnai pasar mancanegara. Tidak tanggung-tanggung, tuak manis tradisional khas Desa Pusuk, berhasil menembus hutan belantara Amazon, sebutan bagi hutan Tropis yang mendunia di Brazil.

Berbagai sisi menarik bisa diulik dari keberadaan tuak manis di hutan Pusuk tadi. Mulai dari permasalahan tuak yang dijadikan sebagai bahan baku utama tuak fermentasi mengandung alkohol tinggi, munculnya masalah sosial, hingga nilai jual yang merosot, menjadi sederatan cerita unik di balik festival ini.

Kawasan Pusuk memiliki luas 674 hektar dengan jumlah tanaman Aren sebanyak 35 ribu pohon, total sebanyak tujuh sampai sembilan ribu pohon produktif yang menghasilkan tuak manis. Tidak ayal, jumlah produksi tuak manis di Pusuk bisa mencapai lima ribu kilo gram per bulannya. Bukan menjadi untung, keberlimpahan ternyata juga membawa buntung.

Para petani tuak, kebingungan untuk memasarkan tuak manis yang melimpah ini. Akhirnya sebagian masyarakat, menjualnya di pinggiran jalan Pusuk, ada pula yang mengolahnya menjadi gula aren batok kelapa, dan sebagian menyerahkan hasil sadapannya kepada para tengkulak.

Menjajakannya dipinggir jalan, tuak manis hanya bisa bertahan satu hari, setelah itu rasanya menjadi masam layaknya basi. Mengingat masa konsumsi tuak yang singkat, sebagian orang mengolahnya menjadi gula aren. Namun, gula aren juga memiliki nilai jual rendah. Bahkan sering mengalamai penurunan harga drastis, membuat petani tidak meraup untung maksimal. Pilihan ketiga dilakukan oleh hampir setengah petani tuak di pusuk.

Petani menyerahkan tuak manisnya kepada pengepul. Naas, para pengepul mengolahnya menjadi minuman olahan yang mengandung alkohol. Peristiwa ini membuat masyarakat geram, karena tidak rela jika wilayahnya dikatakan sebagai penghasil minuman yang memabukkan.

Bupati Lombok Barat, Fauzan Khalid menyebut, 40 persen petani menyerahkan hasil tuak manisnya untuk dijadikan minuman keras.

” Melalui Festival Pusuk Lestari ini, semoga menurunkan produksi minuman keras,” harapnya.

Bupati Lombok Barat H. Fauzan Khalid saat berada di festival Pusuk Lestari

Dalam festival Pusuk Lestari memang diperkenalkan produk turunan tuak manis, juga bahan olahan lainnya.

Melihat permasalahan ini, Muhammad Rizani, salah seorang penggiat UKM sekaligus ketua UKM dari Pusuk bersama pemuda dan masyarakat sekitar, mendirikan usaha industri rumahan yang khusus mengelola hasil bumi, termasuk tuak manis. Usaha Kecil dan Menengah yang didirikan pertama kali ialah Karya Mandiri. UKM ini pula sebagai pelopor lima UKM lainnya di Pusuk.

Mengelola tuak manis, sarjana pendidikan ini berhasil membuat turunan sadapan aren seperti gula batok, gula briket, gula semut, gula cair, kopi gula aren, Coco aren, Serbat jahe aren, olahan-olahan yang berasal dari tuak manis. Keberlimpahan telah diolah menjadi berkah.

Penjualan olahan minuman berwarna putih ini, dipasarkan melalui rumah, distribusi melalui hotel dan toko oleh-oleh sampai dipasarkan secara daring atau online. Untuk online, produknya dipasarkan dengan nama “King Aren”, bisa dilacak melalui aplikasi jual beli online, Instagram, Facebook, dan chanel Youtube.

Bagaimana produk daerah ini bisa bersaing di kancah mancanegara?

Trend ekspo, yang sering digaungkan pemerintah, lomba-lomba inovasi desa, sampai penobatan kelompok-kelompok inovatif, menjadi jembatan pasti menerbangkan nama Pusuk Lestari bersama produknya “King Aren” keliling dunia. Tercatat negara yang telah disinggahi ialah, Brazil, Australia, Korea, Jerman, Jepang, Malaysia, juga semua wilayah Nusantara.

UKM asal Pusuk tercatat beberapa kali memenangkan juara terbaik dalam ajang inovasi produk desa, dan pelopor pemuda kreatif mulai tingkat daerah sampai tingkat Nasional. Gelar juaranya membawa nama tuak manis, semakin manis diperbincangkan diberbagai belahan dunia.

Festival Pusuk Lestari, mengangkat sisi modern dari bahan tradisional ini. Seperti yang dilakukan oleh seorang Bartender pada acara tersebut. Ia meracik tuak manis, menjadi minuman ala Bar. Menambahkan syrup pome, syrup asal prancis, dan bahan lainnya, menambah kesan elegan. Tegukan yang dihasilkan, menguak sensasi berbeda. Rasa manis, sedikit asam, sensasi mint, dan soda bercampur, benar nikmat.

Bartender sedang mengolah tuak manis menjadi minuman ala cafe dan bernilai jual tinggi

Tuak manis memiliki kadar glukosa hanya tujuh persen, 10 kali lipat lebih rendah dari gula tebu yang mencapai 74 persen. Jadi aman untuk dikonsumsi penderita gula darah.

Terus dalam inovasi, konsisten melakukan pelatihan dan bimbingan kepada pegiat UKM, bukan tidak mungkin Pusuk Lestari menjadi destinasi Agro Wisata halal, sejalan dengam visi NTB gemilang yang dicanangkan pemprov NTB.

Jadi dalam waktu kedepan, para pengunjung tidak hanya bisa membawa buah tangan, namun bisa sekaligus belajar, bagaimana produk tersebut dihasilkan.

Bagikan berita:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *