Dari Penghargaan Tertinggi Polri, Hingga Kontroversi Muhammad Saleh

Laporan :Fajar Ngudi P-Sumbawa Barat

Siapa yang tidak mengenal sosok Muhammad Saleh, SE, warga Desa Bukit Damai Kecamatan Maluk, Sumbawa Barat ini dikenal sebagai pengusaha sukses. Sosok ini tidak jarang dikenal kontroversi, karena cendrung mengkritisi keras kebijakan tambang yang tidak berpihak kepada pengusaha lokal.

Pahit getir menjadi Kades telah ia rasakan. Begitupula segudang pengalaman ya di partai dan menjabat sebagai pimpinan DPRD. Semua itu dia jalani dengan sabar dan konsisten. Menurutnya, kebijaksanaan  salah satu cara menjadi seorang pemimpin yang di hargai.

Tidak heran pula, ia tidak disukai oknum management perusahaan tambang raksasa di Batu Hijau. Mantan anggota DPRD Sumbawa Barat dua periode ini bahkan pernah menjabat Wakil Ketua DPRD dan pucuk pimpinan partai.

Namun karena perbedaan haluan politik, Saleh memilih mundur dan menyerahkan estafet kepemimpinan partai yang ia pimpin waktu itu ke koleganya. Ia memilih menjadi pengusaha total. 

Akan tetapi, di era Pilkada 2015, ia diminta bergabung dalam tim Koalisi pengusung Bupati dan Wakil Bupati terpilih, H.W.Musyafirin dan Fud Saifuddin (F3). F3 memenangi Pilkada Sumbawa Barat dengan pendongkrak suara signifikan dari Maluk, Jereweh dan Sekongkang. Peran Saleh dengan jaringan usahanya begitu berpengaruh.

Dari situlah, M.Saleh di minta Bupati Sumbawa Barat yang juga ketua dewan pembina Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI P) menjadi salah satu ketua Pengurus Anak Cabang (PAC) Kecamatan Maluk. Ia menerima jabatan itu meski tak selevel dengannya. Saleh, memilih bekerja dan berbuat sesuai amanah yang diberikan, tanpa banyak bicara.

Maluk, memiliki topografi sosial multi etnis dan multi agama. Dikalangan komunitas suku dan agama yang berbeda, Saleh juga dikenal dekat. Suku Jawa, Sunda, Sulawesi, Bima Dompu dan bahkan Minang semuanya dekat. Bahkan, sebagian besar anggota suku dan tokoh lintas agama mendukung dan memilih dirinya menjadi anggota DPRD pada 17 April 2019 nanti.

Lencana Honolori Police’ disematkan kepada Muhammad Saleh, dari Brigjen Mjahmmad Iriawan, Kapolda NTB tahun 2013.
Saleh sendiri tercatat pernah menjabat sebagai Kepala Desa pertama Maluk, ketika itu Batu Hijau masih tahap konstruksi.
Muhamad Saleh SE, calon Legislatif Dapil 3, adalah seorang figur yang di tunggu masyarakat di tiga Kecamatan. Bersama Partai Demokrasi Indonesia (PDIP). Melangkah menyongsong masa depan KSB menuju masyarakat yang sejahtera.
Warga di tiga Kecamatan, Dapil 3 terutama masyarakat Maluk  sudah tidak asing lagi dengan figur caleg yang satu ini.
Kesederhanaannya mengiringi langkahnya setiap hari. Kepiawaian kepemimpinannya sudah tidak di ragukan lagi. Keramahan dan kedekatan kepada masyarakat memberi warna yang tanpa batas. Baik dari kalangan pemuda hingga orang tua. Dari pejabat sampai rakyat biasa.
Piagam penghargaan yang di berikan kepada Muhammad Saleh, SE dari Kapolda NTB, Birgjen Polisi, Muhammad Iriawan.

Muhamad Saleh telah membuktikan di awal karirnya memimpin Desa Maluk,  di tahun 2001,   menjadi Kepala Desa Pertama dan membawa  perkembangan Maluk hingga Menjadi Kecamatan dan lima Desa. Di wilayah KSB.

“Menjadi Kepala Desa saat itu tidaklah mudah,” kenangnya saat di temui wartawan di kediamannya sabtu (30/3).

Menurutnya, gambaran Maluk di masa lalu carut marut, belum tertatanya pemerintahan Desa yang teratur. Dan KSB belum terbentuk masih masuk wilayah Kabupaten Sumbawa.

Berdirinya perusahaan tambang PT. Newmont Nusa Tenggara saat itu membawa perkembangan Desa Maluk seakan  menjadi desa miniatur Indonesia. Karena orang orang dari berbagai suku di Indonesia ada di sini. Untuk bekerja dan menetap di Maluk. Bahkan, tidak terhitung pekerja lokal yang berhasil direkrutnya bekerja selama perusahaannya menjadi subkontraktor di Newmont.

Banyaknyaperusahaan rekanan PT. NNT, memberikan warna terhadap kehidupan di Maluk kala itu. Padatnya penduduk yang heterogen serta munculnya Cafe Cafe hiburan malam membawa dampak tersendiri.  Terutama kondusifitas keamanan.

Lika liku menertipkan konflik dana ancaman keamanan di Maluk waktu itu menjadi tantangan tersendiri bagi Saleh. Iapun banyak membantu meredam situasi dan menengahi konflik. Bahkan setelah ia menjabat sebagai anggota DPRD mewakili Malik pun, ia dekat dengan kerja kerja pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat.

Berkat tangan dinginnya, beberapa fasilitas TNI Polri di Maluk di berikan, di hibahkan untuk membantu akses aparat negara bekerja dengan baik. Berkat jasa dan upayanya itu, M. Saleh diganjar pengharagaan tertinggi polri bidang partisipasi tokoh. Yakni, ‘Honorori Police’ pada tahun 2013.

Ketika itu, penghargaan langsung diberikan Kapolda NTB, Brigjen. Muhammad Iriawan yang kini menjabat Komisaris Jenderal bintang tiga di Mabes Polri.

“Perkelahian agama antar suku ( Etnis) sering terjadi di Maluk, berkali kali dan berhasil  kita redam. kuncinya, kasih contoh dan ayomi. Sehingga terjadilah kondisifitas kemamanan,” tambahnya.

Pahit getir menjadi Kades telah ia rasakan. Begitupula segudang pengalaman ya di partai dan menjabat sebagai pimpinan DPRD. Semua itu dia jalani dengan sabar dan konsisten. Menurutnya, kebijaksanaan  salah satu cara menjadi seorang pemimpin yang bijak.

Seiring dengan berjalanya waktu, saat ini masyarakat menunggu seorang publik figur, seorang wakil rakyat yang mampu merubah daerahnya, yang bisa mewujutkan aspirasi rakyat, memberikan kemakmuran, kenyamanan dan ketentraman dalam kehidupannya.  Siapa lagi. Rakyat menanti figur seperti ini.**

Bagikan berita:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *