Visi Industrialisasi Dorong Petani Temukan Kemandirian

Dengan Rekayasa Tehnologi, NTB Menuju Industri Pertanian Modern

Andy Saputra-MATARAM

Sejak zaman pemerintahan Gubernur H.Gatot Suherman sejak 1978 hingga 1988, NTB telah meletakkan sektor pertanian menjadi soko guru penggerak ekonomi rakyat. Maklum, di zaman itu, mayoritas warga NTB bergerak di sektor agraris.

Dengan tofografi wilayah yang luas, lahan pertanian NTB juga sangat luas. NTB bahkan di tetapkan sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Gubernur Gatot di era itu menetapkan simbol pembangunan NTB dengan sebutan Bumi Gora. Yakni, tanah pertanian dengan sistem Gogo Rancah atau pertanian tadah hujan.

Di zaman, TGB Zainul Majdi, NTB juga meletakkan pondasi arah pembangunan ke sektor pertanian dan peternakan. Hanya saja pengembangan mulai dilakukan dengan komuditas komuditas baru. Seperti, Jagung, Sapi dan Rumput Laut (Pijar). Makanya, TGB meletakkan visi pembangunan dengan sebutan ‘Pijar’.

NTB di zaman TGB berhasil di juluki sebagai Bumi Sejuta Sapi. Populasi Sapi dan Jagung kita meningkat drastis. Data BPS NTB 2015 menyebutkan jumlah populasi Sapi NTB mencapai, 1,055 juta ekor. Sementara untuk jagung data tahun 2017 mencapai 1,445 juta ton dari 633 ribu ton di tahun 2013. Bahkan proyeksi jagung NTB meningkat menjadi 2,4 juta ton hingga 2020 nanti.

Dengan pengembangan komuditas pertanian utamanya Jagung tadi, pemerintahan Gubernur, Zulkiefli Mansyah dan Wakil Gubernur, Hj. Siti Rohmi Djalilah meletakkan visi Industrialisasi di semua sektor di NTB. Sektor peternakan, perikanan, budidaya, perkebunan dan pertanian.

Visi Industrialisasi di aktualisasikan dengan pemanfaatan rekayasa tehnologi dalam mengembangkan pertanian dan produk hasil pertanian.

” Industrialisasi Pertanian NTB kita inisiasikan dengan menciptakan kemandirian benih. Mulai dari benih Holtikultura dan tanaman pangan, khususnya jagung, kedelai dan produk hasil pertanian. Ini menjadi sumber benih nasional,”kata, Kepala Dinas Pertanian NTB, Ir. Husnul Fauzi, menjelaskan visi dasar pengembangan pertanian NTB di masa akan datang.

Rekayasa tehnologi sebagai dasar terwujudkan pertanian modern, efisien dan memiliki nilai tambah mulai di aplikasikan dalam rencana strategis kegiatan dinas. Di semua bidang tugas hingga Unit Pelaksana Tehnis (UPT) dibawahnya. Salah satu yang utama tadi menurut Husnul, yakni, pengembangan varietas benih tanaman pangan dan Holtikultura yang baru.

Sementara itu, pameran NTB Eskpo guna menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) NTB Gemilang yang ke 61, menjadi ajang aplikasi tugas pengembangan sumber daya pertanian yang berbasis tehnologi dan industrialisasi tadi.

Salah satu contoh misalnya, bagaimana tanaman hias endemik Taiwan Anggrek Bulan, bisa dikembangkan dengan rekayasa tehnologi Green House. Yakni, tehnologi penyinaran, pengaturan suhu dan kelembapan dari rumah anda sendiri. Jadi, tanaman ini bisa dikembangkan diluar habitat aslinya.

Varietas Anggrek Bulan Taiwan yang berhasil dikembangkan Lombok Orchid atas pembinaan Distan NTB

Makanya, kata Husnul, dengan rekayasa tehnologi tadi, mitra usaha dibidang perkebunan tanaman hias, bisa mengembangkan usaha tanaman jenis ini dengan memanfaatkan Land Scape perkotaan, seperti Mataram.

“Kami senang dilibatkan dalam Ekspo Dinas Pertanian ini. Kita bisa bertemu dengan orang baru, dan mitra usaha pertanian lainnya. Dengan tehnologi, edukasi dan pengetahuan kita semakin bertambah, “kata, Erma, pemilik Green House Lombok Orchid, di arena Ekspo.

Tidak hanya tanaman hias, sektor perkebunan lainnya juga memamerkan produk unggulan mereka, seperti kopi bubuk dan Cokelat kemasan berkualitas. Ada juga produk jambu mente kemasan kualitas ekspor.

Dinas Pertanian NTB mengembangkan nilai tambah dari komuditas pertanian dengan sentuhan tehnologi yang ramah lingkungan, efisien dan memiliki nilai tambah baru. Salah satunya dengan pendampingan, empat desa organik. Di desa ini, seluruh produk hasil perkebunan ditingkat nilai tambahnya.

Desa ini mengembangkan sistem pertanian organik secara menyeluruh. Mulai dari pembenihan hingga pemupukan.

“Empat desa organik tadi telah memiliki sertifikat standar pertanian organik. Bahkan satu kelompok memiliki sertifikat organik Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk eksport. Maka itu kita juga mamerkan produk pupuk organik dan benih hingga hasil olahannya,” ujar, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian NTB, H. Ahmad Ripai, Selasa (17/12).

Hasil pertanian organik, saat pameran HUT NTB ke-61 yang berhasil dikembangkan petani bersama Distan NTB

Arah kebijakan berbasis pendampingan tehnologi juga dikembangkan dalam mekanisme sistem tanam semua produk pertanian. Dimana penggunaan pupuk organik lebih di utamakan ketimbang perstisida yang berlebihan.

Ini ditujukan agar mengendalikan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) yang ramah lingkungan. Yakni, mulai dari pusat pembibitan hingga menghasilkan produk olahan sayur, buah dan tanaman keras lainnya yang aman bagi kesehatan serta berkualitas tinggi.

Mengambil posisi stand sebelah timur, Distan NTB juga memamerkan, produk tanaman hias pengembangan Sekolah Menengah Kejuruan Perikanan dan Pertanian (SMKPP). Ada tanaman sayur, ada bibit buah buahan dan produk hasil olahan pertanian.

Keterlibatan mitra usaha petani, hingga instansi pendidikan di NTB dalam mengembangkan tehnologi pertanian dan hasil olahannya membuktikan bahwa internalisasi visi Industrialisasi NTB gemilang sudah berjalan. Karena itu, menurut Husnul kedepan, kebijakan strategis dan visi Gubernur NTB ini akan terus di orientasikan di seluruh kabupaten kota.

Sejumlah mitra usaha petani mengemukakan, edukasi dan pendampingan terhadap penggunaan rekayasa tehnologi pertanian bisa mendorong petani NTB memiliki kemandirian dan menemukan pasar dan segment usahanya sendiri.

Visi Industrialisasi lah yang mendorong penggunaan rekayasa tehnologi simple, efisien dan memiliki nilai tambah tadi.

Bagikan berita:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *