Desa Adat Sade, Lahirkan Guide Kelas Internasional

Caption Foto//Amaq Salman, atau Hamsulhuda, 55 tahun, Guide adat setempat menunjukkan, rumah adat Sasak Sade yang berusia lebih dari 300 tahun. Lantai yang terbuat dari tanah liat, jerami dan kotoran kerbau basah, menyejukkan jika musim panas namun hangat ketika musim hujan tiba.

LOMBOK TENGAH-Desa Adat Sade,  Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat kini memiliki setidaknya 70 Guide atau pemandu wisata.

Uniknya, Guide atau pemandu wisata justru lahir dari warga desa adat setempat. Puluhan dari pemandu wisata warga setempat itu malah mampu berbahasa international, seperti Inggris.

Biginilah suasana Desa Adat Sade. Disini, rumah rumah warga difungsikan sebagai ‘Art Galeri’. Hasil kerajinan produksi warga Desa Adat Sade, langsung di jajakan kepada para pelancong.

Amaq Salman, 55 tahun, salah seorang pemandu wisata di desa adat ini mengemukakan, desa yang berdiri sekitar abad 1776 Masehi tersebut, kini di huni sekitar 150 kepala keluarga.

Desa itu ditetapkan sebagai Desa Adat karena keunikan pemukiman dan interaksi sosialnya yang masih sangat tradisional. Ini bisa di lihat dari bentuk bangunan rumah, seperti bentuk atap, lantai, dinding yang masih terbuat dari anyaman bambu dan ijuk.

“Disini kita mempertahankan warisan nenek moyang kita. Penduduk Dusun Sade tidak boleh menikah dengan orang luar. Jadi tidak heran, seluruh penduduk Sade, masih serumpun dan memiliki ciir kehidupan sosial yang sama,” ujar, Hamsuhada, alias Amaq Salman tadi.

Desa Sade menjadi salah satu tujuan unggulan yang kini rutin di kunjungi para pelancong domestik dan manca negara.

Bus Pariwisata terus meramaikan desa yang memiliki falsafah hidup ‘Obat dan Kesadaran’ itu. Dimana kesehatan dan kesadaran hidup dengan menjaga keseimbangan alam menjadi pondasi kehidupan mereka.

Beginilah aktifitas pengrajin kain Tenun tradisional Desa Adat Sade. Kebiasaan dan budaya berkesenian mereka, justru menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Menurut Amaq Salman, pemandu wisata ditetapkan oleh ketua adat. Seiring dengan meningkatnya jumlah pengunjung, maka jumlah pemandu yang disiapkan juga terus meningkat.

Sebelumnya, tidak sedikit warga Sade yang beralih profesi dari buruh bangunan, dan buruh tani menjadi Guide. Hal ini dirasa lebih nyaman dijalani daripada harus memikul beban berat setiap hari.

Meningkatnya jumlah pemandu wisata Desa Sade, menjadi gambaran besar bahwa kunjungan wisatawan meningkat dari hari ke hari.

Kondisi ini juga menunjukkan pergerakan positif Industri pariwisata di Selatan Lombok yang semakin cerah. Menurut Amaq Salman, kebanyakan, turis dan pengunjung Desa Sade kini dari warga Australia dan Malaysia. Mereka umumnya, menargetkan berkunjung ke Mandalika, di Kuta. ‘Desa Sade’ justru ketiban dampak positif seiring semakin mendunianya Mandalika. (ZM.Awin)

Bagikan berita:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *