Global Geopark Rinjani  dan Manfaat Untuk NTB

MATARAM–Simposium Internasional Asia Pacific Geopark Network (APGN) 2019 di Lombok, NTB 31 Agustus hinggah 9 September dimotori oleh Unesco Global Geopark (UGG).

Simposium ini selain mengenalkan dan membahas geopark di Kawasan Asia Pasifik juga mengusung tema besar soal lingkungan, mengajak masyarakat lokal di setiap geopark agar perduli dan paham bagaimana mengurangi resiko bencana geologi. Tidak hanya bagi keberlangsungan situs warisan geologi namun secara umum untuk kesejahteraan masyarakat.

Secara umum kepentingan pemerintah provinsi terkait gelaran APGN 2019 ke enam ini adalah bagaimana membangkitkan kepercayaan dunia khususnya pariwisata pasca bencana gempa pada tahun lalu. Sebagaimana ditegaskan Gubernur NTB, Dr.H. Zulkieflimansyah bahwa simposium itu, merupakan momentum untuk menunjukkan pada dunia bahwa masyarakat NTB itu kuat. Meski lebih dari 2000 kali diguncang gempa, masyarakat NTB mampu bangkit dengan cepat.

Dalam konsep geopark secara umum seperti dikatakan M Ridha Hakim dari World Wild Life (WWF) NTB adalah konservasi, pendidikan, pemberdayaan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi.

Geopark Rinjani telah mendapatkan pengakuan sebagai global geopark sejak 2018. Rekomendasi sebagai global geopark tersebut tidak lepas dari peran Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) NTB dalam mendorong Kawasan Rinjani sebagai geopark nasional pada 2018. Pada tahun yang sama juga ditetapkan sebagai zona inti dari area Cagar Biosfer Lombok.

Geopark Rinjani termasuk dalam Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) dan Kawasan Pengembangan Pariwisata Nasional (KPPN) NTB.

Kompleks hutan Gunung Rinjani memiliki luas 125.000 hektare yang terdiri atas beberapa fungsi hutan. Di mana 41.330 hektare atau 32,86 persen merupakan hutan konservasi yang dikelola Balai TNGR. Gunung Rinjani juga menjadi satu-satunya sumber air untuk 54 sungai atau sekitar 90 persen sungai di Lombok berhulu di Gunung Rinjani.

Banyak masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari keberadaan Gunung Rinjani sebagai destinasi wisata. Tercatat terdapat 90 pemegang ijin track organizer (TO), baik badan usaha maupun perorangan; 449 pemandu wisata; dan 1.157 porter. Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR), Sudiyono menyebutkan, minimal terdapat 1.696 sumber daya manusia (SDM) yang terlibat secara langsung dalam objek destinasi wisata Gunung Rinjani.

Bentuk intervensi konservasi yang dilakukan BTNGR dalam Model Desa Konservasi yaitu dengan memberikan sejumlah bantuan kepada kelompok masyarakat, dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui gerakan pemberdayaan, sehingga dapat mengurangi konflik dan tindakan pelanggaran kehutanan di kawasan taman nasional tersebut.

Berikutnya tugas Pemerintah dan masyarakat NTB adalah mengusulkan Tambora sebagai Unesco Global Geopark. Setelah mendapatkan sertifikat pengakuan dari Unesco, Tambora sebagai warisan dunia maka seluruh masyarakat dunia akan ikut bertanggungjawab terhadap kelestarian situs geologi tersebut.

Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj.Sitti Rohmi Djalilah mengatakan setelah resmi menjadi cagar biosfer dunia dalam The 31st session of the Man and the Biosphere (MAB) Programme International Coordinating Council di Prancis pada Juni lalu.

Maka agenda besar lainnya setelah deklarasi kawasan Teluk Saleh, Moyo, dan Tambora (Samota) di Pulau Sumbawa adalah menyatukan Tambora ke dalam Samota sebagai konsep konservasi menyeluruh.

Menurut Wagub pengakuan cagar biosfer memiliki makna penting sebagai cara pengelolaan kawasan untuk kepentingan pembangunan ekonomi berkelanjutan dan konservasi, sekaligus didukung kajian ilmiah.

Umi Rohmi sapaan akrab Wakil Gubernur NTB itu menegaskan, dengan ditetapkannya Rinjani dan Tambora sebagai cagar biosfer, maka pemerintah provinsi dan masyarakat NTB telah siap mengalokasikan 30 persen dari kawasan NTB untuk menjadi area konservasi (kawasan hijau).

Termasuk Taman Nasional Gunung Tambora, Taman Wisata Alam Laut Pulau Moyo, Kawasan Perburuan Pulau Moyo, Taman Wisata Laut Pulau Satonda, Kawasan Perairan Liang dan Pulau Ngali dan area konservasi lainnya di bawah program pengelolaan terpadu.

“Pengesahan Saleh, Moyo, Tambora atau Samota sebagai cagar budaya dunia merupakan pengakuan dari komunitas internasional atas kerja keras dari masyarakat NTB dan pemerintah Indonesia,” ujar Umi Rohmi.

Samota, ujarnya, adalah bagian dari sunda kecil. Kawasan ini mencakup dataran rendah hingga ke perbukitan dan gunung-gunung yang ketinggiannya bervariasi dari 0 hingga lebih dari 2000 meter di atas permukaan laut. Rohmi menyampaikan cagar biosfer Rinjani di Lombok dan Samota di Sumbawa akan menjadi Kawasan konservasi terpadu.

Untuk diketahui, cagar biosfer bisa menjadi muara kegiatan konservasi, pembangunan ekonomi berkelanjutan dan pasokan kebutuhan logistik (Riset, Monev, Pendidikan Dan SDM). Cagar Biosfer juga merupakan laboratorium alam bagi pembangunan berkelanjutan.

Memiliki cagar biosfer juga memberikan akses bagi tampilnya NTB di forum Internasional. Misalnya, di Forum ICC MAB yang terdiri dari 122 Ngara. Juga Forum WNBR (World Network of Biosphere Reserve).

Apalagi Forum SeaBRnet (Southeast Asia Biosphere Reserve Network), dimana Lombok akan menjadi tuan rumah pertemuannya pada tahun 2020 mendatang. Juga, SSC (South-South Cooperation).

Menurut Umi Rohmi, cagar biosfer juga bermanfaat untuk sejumlah kebutuhan. Misalnya, bagi masyarakat di sekitarnya, bisa menggerakkan aktivitas jasa ekosistem, kegiatan produksi dan kelestarian budaya. Selain itu, juga memiliki manfaat sebagai kawasan konservasi yang akan mendukung kelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistem.

Juga pengembangan ekonomi berkelanjutan, mempertahankan nilai sosial budaya dan citra pemerintah. Dan bagi sektor swasta, akan memberikan nilai tambah berupa penyediaan komoditas. (ZM. Media Centre, APGN)

Bagikan berita:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *