Jamban Berujung Penganiayaan

0
329
div class="td-all-devices">

TALIWANG—Program Jambanisasi sudah mulai dilaksanakan pemerintah. Hanya saja, pembangunan jamban yang dihajatkan terlaksana dengan sistem gotong royong, ternyata di sebagian wilayah belum berjalan sesuai harapan.

” Kita tetap proses laporan sesuai dengan hukum yang berlaku”

Salah seorang warga Dusun Ai Olat Desa Senayan Kecamatan Seteluk terlibat penganiayaan yang berujung proses hukum akibat terjadi kesalah pahaman. Sebut saja, M. Zain, 48 tahun warga RT 06 RW 03, Dusun Senayan Bawah Desa Senayan.

M. Zain adalah ketua tim peliuk Program Daerah Pemberdayaan Gotong Royong (PDPGR) desa setempat. Ia diduga dianiayah oleh, MH, 35 warga Dusun Ai Olat. Ketika itu, Sabtu (30/4) sekitar pukul 7.30 Wita, M. Zain selaku tim sebelumnya membawa material bahan pembangun jamban, berupa closed, gorong gorong spandek dan lain lain. M. Zain langsung mengamati dan mengikuti pembangunan jamban di dusun tersebut.

” M.Zain bertemu dengan Hamzah anggota tim peliuk bersama MH dilokasi. Kebetulan MH mempersoalkan program jambanisasi, dimana ia keberatan terhadap adanya permintaan penambahan material oleh peliuk berupa batu dan pasir agar jamban kuat,”ujar, Kapolsek Seteluk, AKP Kadek Supartha, membenarkan laporan M.Zain ke kpolsek setempat, Minggu.

M. Zain lanjut Kapolsek menjelaskan kembali kepada MH bahwa jumlah material yang disuplai sudah sesuai dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB). Dan sesuai jumlah anggaran dari pemerintah. MH tidak percaya alasan tersebut, dan mengatakan bahwa masyarakat seharusnya bergotong royong saja karena seluruh bantuan pembuatan jamban sudah dialokasikan anggarannya oleh pemerintah. Tapi, ternyata, masyarakat kata dia justru di dibebankan biaya lagi.

“M.Zain menjelaskan bahwa kemampuan pemerintah sudah jelas dan dialokasikan sesuai. Ia bahkan mengatakan jika banyak protes, sebaiknya penerima bantuan dicoret saja. Ini yang membuat MH keberatan dan langsung naik pitam hingga terjadilah dugaan penganiayaan tersebut,” kata, Kadek lagi.

Akibat insiden itu, korban M. Zain langsung membuat Laporan Polisi (LP) ke Polsek Seteluk. Kepolisian setempat menindaklanjuti laporan tersebut dengan mengagendakan pemeriksaan saksi saksi.

” Kita tetap proses laporan sesuai dengan hukum yang berlaku,” demikian Kapolsek.
Kejadian ini nampaknya menjadi catatan penting pemerintahan Bupati, H. Musyafirin dan Wakil Bupati Fud Saifuddin bahwa masyarakat ditingkat bawah masih belum memahami konsep program ini dengan baik. Ditambah lagi, belum jelasnya sosialisasi tehnis penggunaan dana Bantuan Sosial (Bansos) sesuai aturan yang melarang bantuan ini di pihak ketigakan. (ZM.ndy-01)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here