Kasus Elly, Pertaruhkan Nama Baik Kejaksaan

0
329
div class="td-all-devices">

‘’Gak mungkin, satu tersangka. Apalagi sekarang kasus ini sudah menjadi perhatian publik. Elly tentunya harus terbuka apakah dana itu ia nikmati sendiri? Atau ada pihak lain yang turut serta menikmati dana ini. Ini sudah bukan menjadi rahasia umum lagi,’’


Praktisi Hukum, M.Yames WP

 

TALIWANG—Kejaksaan Sumbawa kini tengah bersiap mengakhiri proses pemeriksaan terhadap kasus dugaan bobolnya Uang Pengganti (UP)  Dinas Pendidikan Olah Raga (Dikpora) setempat. Penyidikan hilangnya uang negara senilai lebih Rp 636 juta tersebut, nampaknya bakal memasuki babak akhir.

Kasi-Pidsus 2
Kasi Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Sumbawa, Anak Agung Raka, SH.P.D, SH

Kejaksaan Negeri (Kejari) Sumbawa memastikan cukup banyak saksi yang telah diperiksa. Pemeriksaan meliputi hampir seluruh pejabat Dikpora, pihak Bank NTB hingga saksi saksi lain,  termasuk auditor inspektorat daerah.

‘’Sudah cukup bagi kami untuk menetapkan tersangka,’’kata, Kepala Seksi Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Sumbawa, Anak Agung Raka, SH.P.D, SH. Raka mengatakan ia tidak ingat pasti berapa jumlah saksi yang telah diperiksa. Yang pasti, penyidik kejaksaan juga telah memeriksa terduga pembobol kas tersebut, saudari Elly sendiri. Ia mengatakan, kemungkinan terhadap adanya tersangka baru selalu ada, hanya saja, tergantung perkembangan penyidik nanti. Meski demikian,ia memastikan Kejaksaan akan segera mengumumkan tersanga dalam kasus tadi.

Elly sendiri, warga Sumbawa Barat. Mantan bendahara Dikpora tersebut dilaporkan telah menggunakan dan menghilangkan dana UP Dikpora  sebesar lebih Rp 636 juta. Hasil audit inspektorat menyebutkan, Elly ditetapkan sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap penggunaan dan hilangnya dana kas tersebut. Ia juga telah dietapkan dalam sidang Tim Penyelesaian Kerugian Negara (TPGR) sebagai orang yang harus mengembalikan kerugian negara tersebut.

Kejadian bobolnya kas Dikpora tadi, dalam catatan media terjadi pada tahun 2014 silam atau persis saat Pemilu Legislative (Pileg) 2014 silam. Elly bahkan saat ini  bahkan telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus berbeda. Yakni, kasus pembunuhan Ahmad Alafan, 52 tahun, pengusaha asal Taliwang, ibu kota Sumbawa Barat.

Pengamat hukum pidana Sumbawa Barat, M. Yames, WP menilai janggal kasus yang menyeret Elly sebagai satu satunya calon tersangka. Ia yakin, dalam teori penyidikan, masih ada tersangka lain yang ikut terlibat atau turut serta menikmati aliran dana yang dihilangkan Elly.

‘’Gak mungkin, satu tersangka. Apalagi sekarang kasus ini sudah menjadi perhatian publik. Elly tentunya harus terbuka apakah dana itu ia nikmati sendiri? Atau ada pihak lain yang turut serta menikmati dana ini. Ini sudah bukan menjadi rahasia umum lagi,’’akunya.

Pengacara  dan praktisi hukum ini menilai, kasus Elly menjadi pertaruhan nama baik institusi kejaksaan. Masalahnya, pertama ini menjadi perhatian masyarakat  karena Elly juga terlibat dalam kasus pembunuhan yang diduga motifnya terkait erat dengan dugaan pembunuhan tadi. Jadi, Yames mengingatkan kejaksaan harus balance atau berimbang. Bahkan mesti bekerja sama dengan penyidik kriminal umum polda untuk mengungkap otak dan tokoh intlektual dibalik dua kasus sekaligus. Yakni, korupsi dan pembunuhan berencana. (ZM.ndy-01)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here