Membangun Peradaban Pengetahuan Global Dari ‘Unter Lakaz’

0
362
div class="td-all-devices">

Keterangan Foto : Master Plant kompleks Ponpes Modern Internasional Dea Malela.

Cita cita besar tokoh Muhammadyah Indonesia, Prof. DR. Dien Syamsuddin untuk membangun peradaban baru  pendidikan di dunia dari tanah Samawa, dinilai tidak masuk akal. Peradaban tanpa pembinaan ilmu lintas generasi, ibarat menuai garam dilautan. Sia sia saja.

SUMBAWA—Pembangunan pondok modern international terpadu setingkat SMP dan SMA Dea Malela, di Kecamatan Lenangguar, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, menurut pendirinya merupakan cikal bakal berdirinya pusat peradaban pengetahuan global  bertaraf internasional. Ini tentu saja cita cita yang mulia. Tak semudah membalikkan telapak tangan memang. Dien Syamsuddin seakan memberi pesan kepada dunia, bahwa berdirinya Ponpes modern internasional Dea Malela menjadi pondasi peradaban pengetahuan global, untuk dunia dari Sumbawa.

IMG-20160808-WA0004
Inilah bangunan Mushollah dan Pondok Tahfiz Qur’an, cikal bakal berdirinya TK SD Unter Lakaz.

“Itu masih sumir. Terlalu dini. Peradaban itu diawali tonggak peristiwa sejarah, runut dan berjenjang atau suistanable.  Ini yang saya maksud penciptaan lintas generasi,” kata, tokoh Muhammadyah Sumbawa dan pendiri Bale Putih Tiang Telu Institute ( BPTTI), yang berbasis di ibu kota Sumbawa, Edy Sofyan Gole, Selasa (16/8).

Edy tergelitik menyampaikan otokritik kepada sang tokoh nasional itu. Meskipun memiliki tongkat estafet, menurutnya peradaban belum tentu bisa dibangun. Pertama, mesti ada pondasi yang mencerminkan tonggak sejarah yang menjadi cikal bakal perdaban tadi. Sebab, bagaimana mungkin dea malela bisa membawa peradaban pengetahuan global  jika tonggak sejarah hanya dibentuk dari lembaga pendidikan setingkat SMP dan SMA saja.

“Bagaimana mungkin orang orang sumbawa bisa membangun peradaban pengetahuan global, jika mereka tidak memenuhi standar. Siapa yang jamin,  lulusan SD konvensional bisa masuk pondok itu hanya dengan standar tes tingkat lokal saja,” ujarnya, menyindir, ketidaksiapan ponpes Dea Malela menjalankan misi para pendirinya.

IMG-20160808-WA0003
Salah satu lokasi dataran luas dimana bakal berdirinya TK SD terpadu Unter Lakaz

Berangkat dari kondisi itulah, BPTT Institute berkerjasama dengan PCM Lempeh dan berbagai komunitas masyarakat lainnya merancang sebuah dasar pondasi peradaban pengetahuan dari generasi pertama untuk menunaikan cita cita Dien Syamsuddin membangun perdaban pengetahuan dari generasi usia dini.

Itulah makanya, ia telah berikhtiar membangun lembaga pendidikan setingkat Taman Kanak Kanak (TK) hingga Sekolah Dasar (SD) guna menciptakan lintas generasi. Untuk memenuhi standar internasional, menurut Edy Gole mesti ada lembaga pendidikan dibawahnya yang telah menerapkan standar pendidikan taraf internasional lebih dulu. Itu agar, lulusan TK SD tadi, memenuhi kriteria Ponpes modern tersebut. Jika itu tidak dilakukan maka ada generasi yang terputus.

“Saya juga ingatkan para pengurus dan kaum cendikiawan Ponpes Dea Malela untuk melahirkan kaum akademis melalui pendirian universitas. Agar estafet generasi ke generasi terlahir sebagai kaum intelektual yang siap terjun ke masyarakat denga standar internasiona tadi,” tegasnya.

Menurutnya, peradaban itu butuh lintas generasi. Bahkan investasi pendidikan membutuhkan waktu sekurang kurangnya 27 tahun. Jika akar atau pondasi ini tidak diciptakan dulu, bagaimana dunia tahu bahwa di Sumbawa telah berdiri peradaban pengetahuan global  yang mendunia.

Itulah alasan mengapa ia mendirikan sekolah terpadu TK SD Muhammadya di Unter Lakaz. Unter Lakaz merupakan sebuah kawasan tanah perbukitan yang terletak di tengah kota Sumbawa Besar yang secara filosofi akan terhubung langsung dengan kompleks ponpes dea malela di olat Utuk, Lenangguar.

“Kami khawatir jika tidak dipersiapkan sejak dini, keberadaan Ponpes modern itu akan menimbulkan masalah baru,”ujarnya.

Dilokasi Unter Lakaz tadi, menurut Edy Gole pihaknya telah terbangun Mushollah dan pondok Tahfiz Qur’an. Di lokasi TK SD ini ia bahkan telah membuat maket plant pembangunan  dengan sistem full day scool. Bahkan land scape outbond pun sudah dirancang. Konsepnya, memadukan pendidikan formil dan pendidikan karakter.

” Kita ingin kombinasikan, kekuatan pedagogik (pengetahuan kemampuan teori) dan psiko motorik (pengetahuan lapangan) anak didik,”demikian, Edy.

Nama Unter Lakaz ada berawal dari tanah wakaf milik Lalu Akang Zainuddin, seorang tokoh Muhammadiyah warga Sumbawa. Tanah seluas lebih dari satu hektar tersebut kini berdiri sebuah musholla dan pondok tahfiz Qur’an, yang merupakan bagian fasilitas pendukung TK SD terpadu Muhammadyah. (ZM.ndy-01)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here