Memimpin Gotong Royong Tak Berjarak

0
316
div class="td-all-devices">

“Saya yakin, semua pihak pasti akan membantu jika kita rakyat mau bergotong royong “

Bupati Sumbawa Barat, H.W.Musyafirin


TALIWANG—Program Daerah Pembangunan Gotong Royong nampaknya terus diupayakan menyentuh semua lini pembangunan.

Kebijakan strategis kepala daerah diharapkan dapat terlaksana, tidak hanya diatas kertas tapi sesuai dan terealisasi dilapangan dengan baik. Upaya tadi nampaknya yang ingin di wujudkan Bupati Sumbawa Barat, H.W.Musyafirin.

p_20160911_164006
Suasana dialog Bupati, H.W. Musyafirin dengan warga dan aparat dusun serta RT, dilokasi rumah korban yang terbakar.

Usai membangun ribuan jamban, kini pemerintah berangsur angsur melaksanakan bedah rumah tidak layak huni. Pemerintah ingin benar benar memastikan, Sumbawa Barat benar benar bebas rumah tidak layak huni. Gerakan gotong royong masih menjadi kekuatan utama yang diletakkan kepala daerah. Gotong royong adalah budaya sosial yang tertanam sejak dulu di diri bangsa ini. Ini kekuatan yang luar biasa, jika mampu dilaksanakan dengan prinsip hubungan sosial yang baik.

Untuk memastikan konsep gotong royong ini sesuai dengan harapan, Bupati semakin rutin turun kebawah. Ia ingin melihat dari dekat serta memimpin gotong royong. Pagi, siang dan sore nyaris tidak ada waktu untuk tidak menengok kondisi warga.

p_20160911_164353
Bupati, H.W.Musyafirin ikut antusias memberi masukan disain rumah milik warga, hingga jongkok dan menggambar ditanah.

“Saya yakin, semua pihak pasti akan membantu jika kita rakyat mau bergotong royong “kata, Musyafirin, disela sela meninjau korban kebakaran, di Dusun Batu Nampar, RT 02 RW 04 kelurahan Telaga Bertong, Minggu (10/9) sore kemarin.

Kepala daerah telah berbicara kepada banyak pihak, perusahaan swasta dan BUMN, untuk mengalokasikan dana Coporate Sosial Responsibility (CSR) untuk membantu korban bencana seperti korban kebakaran rumah, asalkan masyarakat bisa bergotong royong dulu.

Menurutnya, pemberian bantuan bencana seperti korban kebakaran konsepnya sama, tetap diawasi gotong royong oleh agen peliuk PDPGR. Sementara pemerintah mendata dan menganalisis kerugian, barulah disampaikan untuk dibantu oleh BUMN seperti bank bank atau perusahaan swasta. Cara penyaluran berbeda diberikan bagi masyarakat kurang mampu yang rumahnya bakal dibedah. Bantuan ini yang sumber berbeda diambil langsung melalui APBD.

p_20160911_171136
Antusias berpose dengan warga, usai berkomitmen gotong royong bersama.

Pemerintah kata bupati, melihat kedalaman kemiskinan. Maksudnya, sejauh mana kondisi seorang warga, apakah sangat sulit dan sudah tak mampu atau memiliki sumber ekonomi yang jelas. Sebatang kara dan Lansia, inilah menurutnya yang membutuhkan intervensi pemerintah secara langsung. Sasaran utama, termasuk kaum penyandang masalah sosial seperti penyandang cacat atau distabilitas.

“Sejauh ini data yang masuk, Seteluk memiliki kedalaman masalah sosial yang tinggi. Seperti sasaran bantuan Lansia, bedah rumah hingga bantuan sosial lainnya. Nah, bedah rumah dan bantuan sosial bagi Lansia saat ini masih dalam tahap verifikasi di desa,” ujarnya.

Sejumlah sumber menyebutkan kepala daerah, ingin melihat dan mengecek langsung kondisi sosial masyarakat. Tujuannya ingin tahu situasi sosial dan kedalaman masalah sosial dilapangan, agar bisa menjadi bahan evaluasi. Kondisi ini disambut antusias warga, menurut warga, dengan turunnya pemangku kebijakan seperti bupati semakin memangkas jarak antara masyarakat dan pemerintah. Mereka bebas berinteraksi dan memberikan masukan. Cara ini digunakan bupati untuk mengontrol kerja agen PDPGR ini dilapangan.

“Setiap subuh, pagi dan sore hari pak bupati berkeliling menemui warga. Bahkan langsung saja memimpin gotong royong, tanpa terikat protokoler,”kata, Kepala bidang Sosial, Manurung, kepada wartawan, hari itu.

Ini menurutnya, cara yang tepat untuk memaksimalkan komunikasi masyarakat dengan pemerintah, serta mengkampanyekan konsep dan nilai dasar gotong royong secara langsung dilapangan.

“Dialog langsung pak bupati dengan warga cara beliau mengkampanyekan programnya. Tidak perlu repot dan berdebat diruang rapat melulu,” katanya.

Hari itu, puluhan warga berkumpul. Ada RT ada Kadus. Ada juga, staf BPBD kabid sosial serta sejumlah aparatur terkait lainnya. Bupati memimpin sekaligus melihat dan berdialog dengan, Jumandi,43 tahun. Ayah dari lima orang anak ini, terpaksa harus mengungsi dirumah tetangga, setelah rumah satu satunya tempat mereka berteduh dilalap si jago merah hingga rata dengan tanah.

Tak ada yang tersisa. Uang, barang berharga lainnya semuanya ludes. Rumah Jumandi terbakar diduga akibat korsleting arus listrik. BPBD setempat mencatat, kerugian yang timbul akibat musibah kebakaran yang terjadi, Sabtu (9/9) lalu itu mencapai Rp 55 juta. Kebakaran terjadi sekitar pukul 9.30 Wita pagi.

“Pak bupati menginstruksikan agar rumahnya dibangun ulang semi permanen. Dibuat agak luas mengingat banyaknya jumlah anggota keluarga “kata sumber BPBD setempat.

Jumandi dan sang istri berterimakasih atas perhatian dan kunjungan rombongan bupati disore itu. Meski terpaksa menjamu dengan kopi dan sedikit makanan ringan seadanya, ia mengaku bersyukur bisa bertemu secara langsung dengan orang nomor satu di KSB tersebut.

“Terimakasih banyak pak bupati. Pesan beliau saya diminta berbicara dengan ketua RT dan warga untuk sama sama bergotong royong,” demikian, Jumandi.(ZM.ndy-01)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here