Dinas Teriak, OP Bulog Tak Ada Hasil

0
210
div class="td-all-devices">

 Foto Ilustrasi

“Kalau bulog beli gak mungkin masih anjlok. Mereka beli dititik mana. Kok petani masih teriak ke dinas. Selama operasi mereka gak komunikasi ke kita. Banyak protes petani ke kami, sehingga kami panggil perwakilan bulog. Itupun baru bulog saya tanya, tapi laporan sasarannya tidak jelas. Saya paksa ajak mereka turun bersama bersama TNI,”

Kepala Dinas Pertanian Perkebunan Sumbawa Barat, Marlin Hardi.


TALIWANG—Dinas Pertanian dan Perkebunan Sumbawa Barat berang sebab, operasi pengamanan harga gabah yang dilakukan Badan Urusan Logistik (Bulog) Sub Divisi Regional (Suvdivri) Sumbawa belum berdampak alias tidak ada hasil bagi petani.

Kepala Dinas Pertanian Perkebunan Sumbawa Barat, Marlin Hardi, mengaku kecewa sebab koordinasi bulog dengan pemerintah lemah. Hingga operasi pembelian harga gabah berlangsung dua minggu gabah masih anjlok. Sejumlah titik seperti Barang Rea dan Seteluk, petani masih teriak karena gabah masih diharagai Rp 3400 jauh dibawah harga standar yang seharusnya Rp 3750 perkilogram.

P_20170313_143039
Kepala Dinas Pertanian Perkebunan Sumbawa Barat, Marlin Hardi, saat memberikan keterangan kepada wartawan, diruang kerjanya, Senin (14/3).

“Kalau bulog beli gak mungkin masih anjlok. Mereka beli dititik mana. Kok petani masih teriak ke dinas. Selama operasi mereka gak komunikasi ke kita. Banyak protes petani ke kami, sehingga kami panggil perwakilan bulog. Itupun baru bulog saya tanya, tapi laporan sasarannya tidak jelas. Saya paksa ajak mereka turun bersama bersama TNI,” kata, Marlin kesal.

Marlin menegaskan memang tim terpadu pemantauan dan pengaman harga gabah melibatkan tidak hanya instansinya, tapi ada badan penyuluh, Dinas Perdagangan dan TNI. Pihaknya sudah berbicara dengan perwakilan TNI namun instansi lain seperti penyuluh dan perdagangan tidak responsif dan tidak koordinasi sasaran potensi anjloknya harga gabah.

Ia mengaku kecewa dengan Bulog dan tim terpadu pengamanan harga gabah, sebab rencana kerja tidak terkoordinasi. Belum lagi belum jelas data dan penunjukkan rekanan mitra stabilisasi harga gabah Pemda dibawah kendali asisten II dan Perindag, sebab hingga masa panen hampir habis, tim stabilisasi harga gabah belum diterjunkan.

“Saya minta data, mana rekanannya. Supaya kita bisa tunjukkan dimana yang anjlok. Jika panen sudah habis lantas pengamanan terlambat dieksekusi  maka apa yang bisa kita amankan,”protes Marlin.

Ia mengaku telah melaporkan kelemahan ini kepada Bupati Sumbawa Barat, H.W.Musyafirin. Bupati mengaku akan segera memanggil bulog. Dinas, menurut Marlin sebenarnya pengamanan harga gabah bukan menjadi otoritas pihaknya, sebab pertanian hanya produksi. Setiap tahun dinas mencatat, KSB selalu surplus gabah, tapi dimusim panen gabah, selalu anjlok.

“Terkhir bulog dan TNI langsung berhadapan dengan protes masyarakat di Seteluk. Warga kesal, bulog tidak benar benar membeli gabah dibawah. Itu  kita dengar langsung saat tim turun bersama kami baru baru ini,”ujarnya.

Kepala Seksi (Kasi) Pendanaan dan Operasional bulog Subdivre Sumbawa, Samsuddin mengatakan operasi pembelian gabah guna menstabilkan gabah oleh bulog masih dilakukan sampai panen selesai atau kuota kemampuan bulog sudah terpenuhi. Ia menegaskan sasaran operasi pembelian dilakukan pada titik yang ditentukan tim termasuk TNI.

“Kita sudah koordinasi dengan tim, ada penyuluh dinas perdagangan dan TNI. Kalau masih anjlok yang kita terus beli sesuai standar harga dasar bulog Rp 4560 perkilogram kering giling setara beras,” akunya.

Sesuai kuota, bulog subdivre Sumbawa dan Sumbawa Barat diberi alokasi daya serap gabah hingga 45780 ton. Bulog menunjuk rekanan mitra untuk membeli gabah petani sesuai standar bulog. Jadi kata dia, bulog masih terus melakukan pembelian sampai kebutuhan dan kuota terpenuhi.

Sementara itu asisten II adminstrasi pembangunan Setda, Amri Rahman yang mengkoordinasikan dana pengamanan harga gabah pemda Sumbawa Barat mengatakan,  pemerintah secepatnya akan melaksanakan pembelian gabah petani agar harga gabah stabil. Harga standarnya tetap Rp 3750 per kilogram.

P_20170314_134718
Asisten II Bidang Administrasi Pembangunan Pemda Sumbawa Barat, Dr.Amri Rahman, menjawab wartawan diruang kerjanya, Selasa (14/3).

Memang saat ini, kata dia, SK penunjukkan dan perintah kerja masih diproses Dinas perindag. Setidaknya, kata dia, ada delapan rekanan mitra pemerintah yang ditunjuk guna membeli gabah petani sesuai standar. Masing masing ada Rp 500 hingga 300 juta per rekanan dialokasikan dengan total jumlah anggaran Rp 3,3 Milyar.

“Draf Peraturan Kepala Daerah (Perkada) pengaman harga gabah sudah di Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) guna segera dinaikkan ke Bupati. Tim perindag masih bekerja dan segera menyelesaikan alokasi anggaran agar segera dilaksanakan. Saya sih targetkan minggu ini, atau secepatnya,” kata dia, merespon kritikan keras Marlin Hardi, diruang kerjanya, Selasa (14/3).

Asisten mengatakan ia akan berupaya sesegera mungkin mengkoordinasikan lintas instansi agar pengamanan harga gabah ini segera bisa distabilkan sampai puncak panen berkahir yang diperkirakan Maret nanti.

Sementara hasil investigasi wartawan dilapangan, gabah petani kering panen faktanya kebanyakan dibeli para pelele gabah di desa desa dengan harga dibawah standar. Mereka memanfaatkan harga rendah sebab kandungan air gabah petani diklaim masih tinggi. Tapi sesaat setelah dikumpul para pelele, pelele menjualnya lagi ke pengusaha pengusaha besar yang konon yang diduga rekanan bulog sendiri.

Jadi wajar harga gabah petani setiap panen selalu anjlok sebab rentan distribusinya panjang. Selisih harga inilah yang diduga dimainkan para pengusaha besar yang akhirnya sangat merugikan petani. Pemerintah Sumbawa Barat dilaporkan belum memiliki strategi dan sistem pengendalian anjloknya harga gabah yang tepat dari tahun ke tahun. Anjloknya harga gabah seolah menjadi masalah klasik. Pertanyannya seriuskan pemerintah dan bulog menyelamatkan harga gabah petani?. (ZM.ndy-01)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here