Produksi Jagung KSB Belum Hasilkan Dampak Ikutan

0
194
Petani mengumpulkan jagung hasil panen di Desa Patalassang, Gowa, Sulawesi Selatan, Minggu (22/3). Harga jagung kering di tingkat petani mengalami kenaikan, dari harga Rp 2.800 per kilogram saat ini mencapai Rp 3 ribu per kilogram. ANTARA FOTO/Abriawan Abhe/Rei/pd/15.
div class="td-all-devices">

Foto//Ilustrasi hasil Panen Jagung

TALIWANG—Kapasitas Produksi Jagung Hibrida di Sumbawa Barat terus meningkat dari tahun ketahun. Hanya saja, besarnya kapasitas produksi tidak berbanding lurus dengan berkembangnya sektor ikutan seperti usaha pengolahan dan pendapatan bagi daerah.

’Saya memang tugasnya memastikan produksi saja, bukan perdagangan komuditi ini. Tapi, saya melihat belum ada industry kecil yang memanfaatkan besarnya produksi bahan baku Jagung kita. Mungkin ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama, “

Kepala Dinas Pertanian Perkebunan Peternakan Sumbawa Barat, Marlin Hardi.


Dinas Pertanian, Perkebunan dan Pertenakan Sumbawa Barat mengakui belum ada penerimaan signifikan dari besarnya produksi Jagung. Saat ini sebaran tanam Jagung mencapai 11.971 hektar. Dengan rata rata produksi mencapai 6,9 hingga 10 ton per hektar.

“Saya kira kita belum punya regulasi guna menangkap realisasi pendapatan dari Jagung ini. Mungkin hanya, pajak atas tanah garapan saja. Belum ada pajak atau retribusi hasil produksi pertanian yang bisa ditarik,’’ kata, pelaksana tugas Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan Sumbawa Barat, Marlin Hardi, Kamis (13/4) dikantornya.

Saat ini harga Jagung di Sumbawa Barat rata rat amencapai Rp 2800 hingga Rp 3400 perkilogram.  Dari laporan yang ada, kata dia, harga masih stabil. Harga anjlok berkisar Rp 2500 perkilogram. Jenis Jagung yang ditanam rata rata Jagung Hibrida, ADP 78, Bisi B777 dan Pioner.  Produksi Jagung sejauh ini masih terpusat di Kecamatan Poto Tano, Jereweh dan Sekongkang.

IMG-20170323-WA0027
Foto//Bupati Sumbawa Barat, H.W.Musyafirin suka cita usai melaksanakan Panen Raya Jagung di Kecamatan Poto Tano. Produksi Jagung KSB dilaporkan terus meningkat dari tahun ke tahun.

Menurut Marlin, pemerintah bisa membuat peraturan daerah terkait dengan pembuatan surat izin angkut hasil pertanian. Dari situlah retribusi bisa digali. Potensi produksi Jagung di Sumbawa Barat merupakan komuditi kedua terbesar setelah Padi. Seharusnya, pemerintah bisa memanfaatkan sektor ini guna menuai pendapatan.

‘’Saya memang tugasnya memastikan produksi saja, bukan perdagangan komuditi ini. Tapi, saya melihat belum ada industry kecil yang memanfaatkan besarnya produksi bahan baku Jagung kita. Mungkin ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama, “ujar, Marlin.

Data  instansi ini menyebutkan, sesuai siklus, musim tanam Jagung di Sumbawa Barat dibagi menjadi dua. Pertama dimulai sejak Oktober hingga Maret dan kedua dimulai April hingga September. Jika dihitung, maka dari dua musim tanam tadi, rata rata produksi kita bisa mencapai 119.710 ton. Dari data yang ada, besaran luas tanam tahun 2017 ini lebih besar dibandingakan dua tahun terakhir yakni 215-2016 yang hanya mencapai 9800 hektar saja.

Sementara itu, investigasi wartawan menemukan, petani Jagung asal Desa Kokarlian Kecamatan Poto Tano mengaku hasil panen Jagung mereka rata rata di beli pengusaha asal pulau Lombok untuk selanjutnya dikirim ke Provinsi Bali. Harga jual Jagung  disini mencapai Rp 2700 per kilogramnya.

Berbeda dengan Kokarlian, Sebagian besar petani Jagung asal Desa Talonang SP IV menjual  hasil panenn ereka ke pengusaha asal Kecamatan Lunyuk Kabupaten Sumbawa. Harga disanapun cukup bersaing namun masih stabil. (ZM.ndy-01)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here