Imigrasi Sidak WNA Asal Jepang

0
308
div class="td-all-devices">

Foto//Inilah Katsuda Naoki, 54 tahun, WN Jepang seorang Tehnisi Mutiara.

SUMBAWA BARAT— Kantor  Imigrasi Sumbawa bertindak cepat merespons informasi adanya Warga Negara Asing (WNA) Asal Jepang yang diduga menyalahi izin tinggal dan tidak terpantau Imigrasi Sumbawa selama 20 tahun.

Katsuda Naoki, 54 tahun, dan seorang rekannya, Yoichi Sibata, 60 tahun sempat diberitakan bekerja dan berada di PT Paloma Agung, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat selama puluhan tahun serta luput dari pemeriksaan Imigrasi setempat. Berita itu dirilies media elektronik online, 19/4 lalu.

IMG-20170420-WA0018
Foto//Katsuda Naoki, 54 tahun, , tengah menjawab pertanyaan petugas Imigrasi Sumbawa di dampingi kepolisian setempat, di Labuhan Lalar, Kamis (20/4).

“Kami langsung terjunkan tim kelapangan melakukan pengecekan. Memang kami temukan dua WNA asal Jepang, namun setelah kita periksa semua izin dan dokumen mereka lengkap,”kata kepala Imigrasi Sumbawa, Drs.Saefulloh, kepada pers di Sumbawa Barat, Kamis (20/4) pekan lalu.

Menurutnya tim diterjunkan didampingi Kepala Desa Labuhan Lalar dan kepolisian setempat melalui Bintara Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) setempat. Keduanya bekerja di perusahaan itu sebagai tehnisi Mutiara selama dua tahun. Ia mengakui, informasi kedua orang ini sempat tidak diketahui karena perusahaan tempat ia bekerja tidak melaporkan pekerja asing mereka.

Syaifulloh menambahkan, dari hasil pemeriksaan kelengkapan Dokumen keimigrasian diketahui kedua WNA ini memiliki dokumen lengkap dari Pasport, Kartu Izin Tinggal Sementara (Kitas), Izin Menetap Sementara (Imta) dan RPTKA sesuai aturan yang berlaku di Indonesia.

Sementara itu kepala Desa labuhan Lalar, Ansharullah menilai keberadaan PT Paloma Agung selama ini belum berkontribusi apapun bagi desanya. Kawasan izin perusahaan itu termasuk cukup luas bahkan sebagian luas perairan  Labuhan Lalar digunakan  perusahaan ini untuk mebudidayakan Mutiara selain masuk dalam wilayah Desa Goa Kecamatan Jereweh.

 Ia menilai selama beroperasi di wilayahnya PT Paloma Agung belum memberikan kontribusi apapun, apakah itu pemberdayaan atau kegiatan pedesaan lainnya.

 “Seharusnya ada bantuan ke Desa  Labuan Lalar agar berimbang, karena kalau dari  koordinat lokasi perusahaan, kita yang memiliki pantai. Untuk itu perusahaan juga perlu mengetahui kewenangan serta batas antara dua desa ini,” demikian, Ansharullah. (ZM.Ndy-01)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here