Banjar Hindu Siap Laksanakan ‘Menyama Braya’

0
139
div class="td-all-devices">

“Pemeliharaan toleransi menjadi pekerjaan penting mengingat konflik antar umat beragama masih menjadi ancaman di Negara ini . Banyak faktor yang melatarbelakangi terciptanya konflik yang mengatas namakan agama”.

Akhmad Rivai, Camat Poto Tano


SUMBAWA BARAT–Sikap toleransi dan saling menghormati ditunjukkan warga Desa Kokarlian Kecamatan Poto Tano Kabupaten Sumbawa Barat, khususnya bagi penganut agama Hindu. Menjelang bulan suci Ramadhan, warga Banjar Hindu menggelar pertemuan guna membahas kegiatan pengamanan dan menjaga khusu’ nya ibadah puasa bagi umat Islam tersebut.

Ketua Banjar (Adat,Red) Hindu Putu Nomor menyampaikan komitmen banjarnya di hadapan Camat Poto Tano, Akhmad Rivai di Kokarlian, Rabu (10/5) malam lalu. Camat Poto Tano turun dan bertemu komunitas Banjar Hindu dalam agendanya memperkuat toleransi dan keamanan wilayah Poto Tano jelang pelaksanaan Ibadah Puasa Ramadhan. Pertemuan tersebut juga di hadiri, Pedande dan tokoh masyarakat di Balai Banjar setempat.

IMG-20170511-WA0006
Putu Nomor, Ketua gabungan Banjar Hindu Desa Kokarlian, Kecamatan Poto Tano Kabupaten Sumbawa Barat.

Dalam arahannya, Putu Nomor berharap kepada para ketua Banjar di bawahnya untuk dapat menyampaikan kepada warga umat Hindu agar dapat ikut menjaga keamanan dan kenyaman umat Muslim dalam melakukan ibadah puasa. Saling menghargai agar rasa kebersamaan dan saling memiliki tetap terpelihara.

“ Saya berharap kepada para ketua Banjar agar dapat menyampaikan kepada masing-masing warganya untuk dapat menjaga toleransi dan saling menghargai serta ikut membantu khusu nya ibadah puasa sebulan penuh,“ kata Putu penuh harap.

Menurutnya, kesadaran saling menghargai terhadap umat Muslim dalam menjalankan ibadah puasa , merupakan tanggung jawab kita bersama agar tercipta rasa kebersamaan yang tinggi. Baik menjaga lingkungan yang bersih, keamanan dan mencegah warga yang membunyikan petasan agar umat muslim lebih tenang dalam menjalankan ibadah Puasa.

Putu mengakui jalinan kerukunan antar umat pemeluk agama Hindu dan Islam di Desa Kokarlian sangat terukir apik. Para Pecalang (pengamanan adat umat Hindu Bali,red) siap ikut menjaga berlangsungnya ibadah umat Islam dengan aman dan lancar terutama saat ibadah Sholat Tarawih berlangsung.

IMG-20170511-WA0005
Camat Poto Tano, Akhmad Rivai, berdialog dengan komunitas adat Banjar Hindu dalam agendanya melaksanakan pembinaan wilayah terutama jelang memasuki Bulan Suci Ramdhan.

” Kepedulian antarumat beragama itu dalam bahasa Bali disebut ‘Menyama Braya’ (menjalin persaudaraan). Menyama Braya ini artinya kita saling pengertian satu sama lain,” terang Putu.

Setiap hari besar agama, baik ummat Islam dan Hindu sambung dia, saling menjaga keamanan dan perlindungan. Ini bagian dari semnagat masyarakat memlihara keberagaman dan toleransi antar ummat bergama.

“Setiap umat Hindu melakukan ritual keagamaan, umat Islam giliran terlibat melakukan penjagaan, hal ini terlihat begitu indahnya rasa kebersamaan. Ini yang kami sebut Menyama Braya tadi,” akunya.

Putu Nomor juga mengatakan sebagai umat beragama, toleransi dan saling peduli terhadap sesama adalah hal utama.

“Kami mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi umat Islam . Semoga kerukunan ini tetap terjaga,” ucap Putu.

 

IMG-20170511-WA0001
Anggota warga masyarakat Banjar tengah khidmad mendengarkan arahan Camat dan ketua Banjar, Putu Nomor.

Sementara itu Camat Poto Tano, Akhmad Rivai mengatakan, pemeliharaan toleransi menjadi pekerjaan penting mengingat konflik antar umat beragama masih menjadi ancaman di Negara ini . Banyak faktor yang melatarbelakangi terciptanya konflik yang mengatasnamakan agama. Seperti kesenjangan ekonomi, perasaan ‘pengucilan’ maupun ketidakadilan perilaku terhadap suatu kelompok umat beragama.

Ia mengatakan pokok utama terciptannya suasana yang kondusif tidak lain adalah kerukunan. Dengan kerukunan akan melahirkan karya-karya besar yang bermanfaat dalam memenuhi kebutuhan hidup. Sebaliknnya konflik pertikaian dapat menimbulkan kerusakan diberbagai segi kehidupan.

Untuk itu Rivai meminta kepada para pemangku Banjar umat Hindu yang ada di Desa Kokarlian diharapkan peka terhadap kondisi sosial di lingkungannya. Pasalnya kondusifitas akan  terlaksana dengan baik bila semua komponen masyarakat bisa menampilkan jati dirinya sebagai sosok yang rendah hati, responsif terhadap permasalahan sosial dan saling menghargai perbedaan yang ada.

“Dengan kata lain, jika kita ingin masyarakat kita sejahtera maka tampilkan terlebih dahulu kerukunan diantara kita,”demikian Akhmad Rivai. (ZM.ECG-01)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here