Sepenggal Cerita Dari NTB Untuk Kapolri

0
425
div class="td-all-devices">
FOTO//Ipda Nurlana bersama Kapolri Jenderal Tito Karnavian, usai penyerahan penghargaan Kapolri kepada 43 Polisi dan Anggota TNI Berprestasi seluruh Indonesia.
“Kami sebagai pimpinan Polri siap melihat dan turun kelapangan mendukung kerja para Bhabinkamtibmas yang penuh dedikasi bekerja, berprestasi melindungi serta menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat,”

Kapolri Jenderal Polisi, H.M. Tito Karnavian.
SUMBAWA BARAT—Inspektur Dua (Ipda) Polisi, Nurlana, mantan Bhayangkara Pembina Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) di Desa Seteluk Atas, Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat kini melenggang ke Markas BesarĀ  Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri).
Ipda Nurlana baru saja menerima penghargaan pin emas dari Kapolri Jenderal Tito Karnavian, karena dedikasinya melebihi tugas yang dia emban. Ia mewakafkan tanah hasil kerja kerasnya untuk membangun masjid dan memelihara warga Lansia serta Jompo di desa dimana ia bertugas.
Perwira yang diangkat karirnya dari polisi biasa tersebut mengingat kembali, bagaimana letih, susah, sedih dan putus asa untuk di percaya masyarakat mewarnai perjalanan karirnya. Sosok Nurlana dulu dikenal pendiam, sangar dan tak kenal kompromi.
Maklum, polisi lulusan bintara 1999 tersebut pernah bertugas di tim Buru Sergap (Buser) Polres Sumbawa, yang biasa berurusan dengan dunia kriminal.
Ipda Nurlana usai disematkan pin emas langsung oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian, di Rupatama Mabes Polri, Jum’at (13/10).

“Ini yang membuat saya menjadi sikap yang tertutup dan sedikit frontal. Di Desa, masyarakat tidak mudah menerima saya. Saya dinilai kasar, itu kesan pertama saat saya bertugas di Sumbawa Barat,” ketus Nurlana menceritakan kembali perjuangan berat yang ia hadapi.

Seiring tugas baru menjadi Kepala Unit (Kanit) Intelijen Polsek Seteluk. Nurlana semakin tertutup dan banyak menyendiri. Tapi justru disitu awal ia mulai dekat dengan ibadah dan masjid. Sehari hari Nurlana di bimbing ulama setempat, Dea Guru H.Zulkifli Daud. Nurlana banyak bertanya soal agama serta sikap seorang muslim yang baik.

“Lama saya belajar memahami diri saya dan dunia ini. Tidak mudah pak. Saya jatuh bangun. Akhirnya, saya berangsur paham bahwa abdi negara adalah alat untuk bertaqwa. Jadi didunia jalan untuk taqwa. Allah kuncinya. Saya mengenal agama karena belajar ikhlas dulu,”terangnya, lagi.

Sejak dipercaya menjadi Bhabinkamtibmas, Nurlana mulai bersentuhan dengan masyarakat. Ia paham betul, ini awal yang baik untuk menunjukkan pengabdiannya kepada allah dan negara tercinta. Tugas Bhabinkatibmas yang menjaga dan memelihara ketertiban menjadikannya lebih leluasa turun ke rumah rumah dan banyak belajar dari filosofi hidup orang tua terdahulu.

“Saya tergerak mewakafkan tanah untuk masjid lahir dari dorongan keras batin ini. Saya harus banyak berbuat. Sikap tulus dan kebaikan untuk sesama apalagi untuk ibadah meyakini saya akan memberikan kedamaian hidup bagi keluarga kecil saya. Memang banyak yang mencibir, menghina dan tidak suka. Saya tahu, tapi menerima saja. Prinsipnya, kerjakan yang menurut saya baik, toh amal allah yang timbang, bukan manusia,” ujar, Lana sedih.

Ipda Nurlana bersama mantan Kapolda NTB yang kini menjadi Kepala Korps Sabhara Mabes Polri, Irjen. Umar Septono, M.Si di Mabes Polri.

Kasih sayang dan keikhlasan tugas yang ia jalan diuji kembali, ketika ia melihat para Lansia sakit sakitan dan diurus seadanya. Karena ketidak mampuan keluarga. Mulailah ia sering berkunjung, mebawakannya makanan, mambawakan sekedar kopi, teh, gula dan rokok. Bahkan tak jarang Nurlana memandikannya dengan tangannya sendiri. Jadilah ia sahabat bagi para wanita dan kakek jompo.

Nurlana seorang yatim yang mengingat kembali saat masa masa muda dulu dibawah pelukan ayah dan ibu sebelum dipanggil sang khalik. Itupulah yang memotifasi hatinya bergerak mengurus para Lansia seperti ayaj dan ibunya sendiri.

Kebijakan pimpinan Polri ternyata berpengaruh besar menentukan kemudahan tugas dan pembentukan sikap setiap anggota saat bertugas sehari hari. Apalagi, Program Profesional Modern dan Terpercaya (Promoter) Kapolri dilaporkan juga ikut berdampak baik bagi pembenahan kinerja Polri di tingkat bawah.

Seperti mantan Kapolsek Seteluk, AKP Kadek Supartha juga berperan penting dalam karir Nurlana. Kapolsek ini dianggapnya seperti kakak dan orang tuanya sendiri. Kadek sosok pimpinan yang sangat displin, perasaan dan mudah belas kasih, terutama ketika anak buahnya tertekan dalam tugas.

“Beliau selalu memotifasi kami anak buahnya dengan teladan, contoh. Misalnya, soal ibadah. Ia meminta dan menekankan anak buahnya beragama muslim beribadah tepat waktu. Displin, padahal beliau bergama lain. Ia menggantikan tugas kami di jalan jalan dan desa ketika kami sakit, dan tengah melaksanakan ibadah. Beliau panutan saya,” ujarnya lagi.

Begitu juga kepala kepolisian Resot Sumbawa Barat, AKBP. Andy Hermawan ia mengakui sangat mendukung tugas Bhabinkamtibmas. Sepanjang itu bisa membuat masyarakat tentram dan hidup damai, Kapolres memudahkan segalanya.

Kapolda NTB, Brigjen Umar Septono pun tergerak melihat dari dekat kerja baik Nurlana. Setelah menerima banyak laporan dari bawahannya, Umar mendatangi warga desa ini. Melihat dari dekat semangat gotong royong membangun masjid. Mengunjungi lansung para Lansia dan warga serta mendengar pengakuan masyarakat tentang sosok Nurlana.

Kapolda pun tanpa sepengetahuan Nurlana mengumumkan prestasi Nurlana di Mapolda NTB di depan seluruh perwira tinggi korps bhayangkara NTB itu. Bahkan Umar menghadiahi Nurlana Umroh serta memberikanya jalan mulus mengukuti tes perwira SIP di Jawa Barat.

Nurlana akhirnya bergelar Inspektur. Perwira pertama ini, berkat tangan umar pula akhirnya di panggil Kapolri secara khusus menerima penghargaan simbol pin emas langsung dari tangan Jenderal Tito Karnavian.

Tidak hanya di era Umar Septono, kepolisian NTB di era Kapolda Brigjen Firly juga memperoleh penghargaan langsung dari Presiden Republik Indonesia Jokowi Dodo atas gagasan besar Bhabinkamtibnas di Lombok Tengah yang merubah motor Bhabinkamtibmas menjadi perpustakaan keliling.

Saya tidak bermimpi atau berharap akan jadi begini. Saya benar benar tidak meyangka. Ini karena doa orang orang tua saya para haji, ulama dan para Lansia di Seteluk. Mereka mendoakan saya sehingga di ijabah oleh allah. Saya hanya ingin jadi Bhabin yang baik seumur hidup saya, saya tidak ingin jadi perwira. Mudah mudahan saya bisa menjalankan amanah negara ini dengan ikhlas dan di ridhoi allah. Saya mohon doa masyarakat Seteluk,” pinta Nurlana, lirih, melalui sambungan telepon langsung dari Mabes Polri, Jum’at (13/10).

Tidak hanya bagi anggota Polri berprestasi, Kapolri juga memberikan penghargaan kepada Bhabinsa Anggota TNI yang berjasa membantu sinergitas antara TNI dan kepolisian dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. (ZM.ndy-01)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here