Bupati di Minta Manfaatkan Keberadaan KEK

0
143
div class="td-all-devices">

FOTO// Kawi Eka Karya juga memproduksi kapal kapal Militer TNI, seperti Sea Reader dan kapal patroli laut Kementerian serta menerima lisensi lulus uji spesifikasi dari Kepala Staf TNI Angkatan Darat RI.

SUMBAWA BARAT— Bupati Sumbawa Barat diminta tidak hanya menjadi penonton dari konsep perencanaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika Resort di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

KEK diresmikan langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Jokowi Dodo langsung di Loteng. Bersama Gubernur NTB, TGB. Zainul Majdi Presiden Jokowi bahkan sempat membuat vedeo Vlog bersama memamerkan latar belakang keindahan obyek wisata di daerah itu.

Direktur PT. Kawi Eka Karya, Dadang Sukmana menunjukkan hasil Produksi Kapal Patroli Maritim di pusat galangannya di Tanggerang, Banten.

KEK adalah perencanaan terpadu yang dibuat Pemprov NTB bekerjasama dengan Kementerian Pariwisata. Dari perencanaan KEK ini, kementerian menyambungkan investasi swasta yang ingin menggarap setiap destinasi disana.

“Bupati harus berfikir mulai menyusun perencanaan bagaimana sebuah kawasan ekonomi maritim berbasis pariwisata dibuat segera. Agar bisa di interkoneksikan dengan KEK,” ujar, Kamaruddin, SH kepala penelitian pengembangan (Litbang) Forum Komunikasi Wartawan setempat, Selasa (24/10).

Jika pemerintah Sumbawa Barat tidak mengambil langkah strategis, maka KSB sebagai kabupaten pintu masuk pulau Sumbawa tidak dianggap berguna.

Peran swasta kata dia, harus di optimalkan secara profesional. Pemerintah hanya regulator, libatkan swasta dalam menyusun perencanaan pariwisata atau sektor lain yang bisa sama sama mendukung pariwisata.

“Poto Tano bisa jadi sektor strategis nengembangkan ekonomi khusus wisata tapi berbasis maritim. Sekarang kita harus berfikir, bagaimana maritim maju dan wisata juga maju. Intinya perencanaan. Potensi kita sudah ada,” ujarnya lagi.

PT. Kawi Eka Karya juga memproduksi kapal penumpang dan patroli berbahan baku Allumunium melalui sistem komputerisasi.

Dari sektor maritim kata Kamaruddin, Poto Tano punya galangan kapal. Kapal kapal wisata dan patroli bisa dibangun disini. Costnya rendah, biaya produksi rendah. Tenaga kerja masuk, ekonomi masuk. Speed Boat penumpang bisa dibuat dan diakses usaha usaha basis nelayan.

Transportasi ini untuk menginterkoneksikan antar pulau di Gili Balu, yakni wisata kepulauan berbasis ecowisata.

Tidak hanya itu, Poto Tano juga bisa menjadi pusat perikanan tangkap dan budidaya yang nantinya bisa mendukung kebutuhan pariwisata, seperti resto apung, kuliner ikan bahkan pasar ikan hidup apung. Infrstruktur yang dibuat tidak merusak lingkungan namun sesuai dengan konsep ecowisata.

“Inikan potensi besar. Intinya masterplant dulu. Dorong penguatan industri galangan yang bisa juga mendorong industri maritim. Misalnya, bagaimana kerambah dibuat dengan material tehnologi baru dan ramah lingkungan. Artinya selain budidaya, kerambah bisa jadi pusat wisata budidaya juga. Kan masuk kerambah, pengunjung bisa bayar karena unik dan representatif untuk wisata keluarga. Inikan bagus,” terangnya.

Kepala Bidang (Kabid) Destinasi Dinas Pariwisata Sumbawa Barat, Abdurahman menyambut baik konsep industri pariwsata berbasis maritim. Memang kata dia, swastalah yang ikut merencanakan pemerintah menganalisa dan mendukung infrastruktur yang dibutuhkan.

“Nanti bisa swasta yang kelola. nah, ini kurang di kita. Pemerintah terpaksa ambil alih membuat tanpa perencanaan regionalnya. Karena swasta belum tertarik,” kata dia.

Kepala Dinas Perikanan NTB, Lalu Mahidan mengakui Pulau Sumbawa di jadikan pusat perikanan terpadu. Ia mendukung Galangan kapal dinsana karena, syarat industri maritim dimulai dari adanya galangan kapal.

“Pemprov akan mendukung pengembangan industri perikanan disana,”demikian, Mahidan.

Suasana kegiatan produksi PT. Kawi Eka Karya, di Jakarta.

Kepala Dinas Perhubungan NTB, Lalu Bayu juga mengemukakan, Poto Tano juga masuk dalam perencanaan perhubungan laut untuk di bangun galangan kapal atau Repair (Perbaikan,red) ferry dan kapal penumpang lainnya.

“Itu masuk juga dalam perencanaan kami. Jika ada swasta yang sudah masuk, kita dukung dan permudah izinnya,” kata Bayu kepada wartawan.

Sebelumnya, Wakil Bupati Sumbawa Barat, Fud Saifuddin memahami bahwa industri maritim dan pariwisata harus dikembangkan dikawasan ekonomi pesisir yang strategis.

Tidak hanya, galangan, industri ikutan lainnya juga bisa dikembangkan di PotoTano. Seperti Coolstorge ikan, pusat pelalangan ikan (PPI) hingga pengolahan dan pengalengan hasil perikanan.

“Semuanya bisa dan diupayakan kearah sana. Namun, saya sepakat perlu perencanaan yang matang. Itulah tantangan pemerintah,” demikian, Wabup.

KEK Mandalika Resort sejatinya bisa dimanfaatkan Pemda setempat untuk mengambil bagian dari interkoneksi perencanaan promosi wisata.

Perencanaan ini bisa meyakinkan pemerintah pusat dan pemerintah provinsi, bahwa Sumbawa Barat bisa memperisapkan infrastruktur ikutan wisata dan maritim yang bisa menunjang keberadaan KEK. (ZM.ndy-01)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here