Antara Petuah Gotong Royong dan Tolak Miskin

0
199
div class="td-all-devices">
FOTO//Serah terima secara simbolis Cangkul oleh Bupati kepada peserta Gotong Royong padat karya infrastruktur.

SUMBAWA BARAT—Bupati Sumbawa Barat kembali memaparkan tiga konsep Gotong Royong yang kini di programkan pemerintah setempat.

Gotong Royong menurut pemerintah harus dipahami secara luas baik makna, tujuan dan manfaat oleh masyarakat luas. Pemerintah terus berupaya mengevaluasi serta mencari model kegiatan Gotong Royong yang baik agar pesan dan manfaatnya mudah dipahami serta diterima masyarakat.

“Lambat laun, bapak ibu sekalian akan memahami mengapa Gotong Royong kita letakkan menjadi program serta dasar pembangunan. Semangat kekeluargaan itu yang kita tanamkan, cari solusi bersama dan bekerja bersama untuk lebih baik,” kata, Bupati Sumbawa Barat, H.W.Musyafirin, berbicara usai membuka kegiatan Gotong Royong Padat Karya Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Sumbawa Barat, di Desa Lalar Liang, Jum’at (24/11).

Musyafirin menyampaikan, Gotong royong padat karya adalah gotong royong dimana anggota masyarakat yang terlibat tenaganya dibayar, termasuk peralatan dan material. Gotong royong ini ditujukan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dalam bidang jasa tenaga kerja serta ditujukan menuntaskan pembangunan yang dibutuhkan secara mendesak oleh masyarakat.

Bupati Sumbawa Barat, H.W.Musyafirin berdioalog dengan warga sebelum memulai kegiatan Gotong Royong Padat Karya di Desa Lalar Liang, Jum’at (24/11). Turun mendampingi, Kadisnakertrans, Abdul Hamid.

Misalnya, kata Bupati, akses badan jalan penting untuk perladangan atau perkebunan atau  kegiatan pertanian untuk memudahkan masyarakat guna menunjang matapencaharian sehari hari.

“Yang penting dalam gotong royong adalah kebersamaan. Semangat dan partisipasinya yang terus di rajut dan dibina,” terangnya.

Selain padat karya, pemerintah juga memprogramkan gotong royong stimulan dan gotong royong mandiri. Gotong royong stimulan artinya, kegiatan kerjasama masyarakat yang dilaksanakan karena ada stimulasi dari pemerintah. Contoh bedah rumah dan jambanisasi. Pemerintah menyediakan dana pembelian bahan bahan meterial namun masyarakat yang mengerjakannya.

“Nah lebih bagus lagi gotong royong mandiri. Gotong royong ini digerakkan dan dikerjakan secara bersama sama tanpa dukungan biaya sedikitpun. Tidak ada stimulan biaya material, tenaga dan lain lain. Murni tanpa biaya,” terangnya.

Terkait padat karya, kepala daerah menegaskan akan membuat model program padat karya yang didanai APBD langsung. Selain membantu menyelesaikan kebutuhan infrastruktur yang mendesak, model ini juga seiring meningkatkan pendapatan masyarakat dari sektor jasa tenaga kerja. Ini di klaim pemerintah sebagai model pemberdayaan yang baik pula.

Sementara itu, Kepala Dinas (Kadisnakertrans), Abdul Hamid mengatakan program padat karya infsratruktur ini dilaksanakan atas sumber dana Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) melalui balai besar peningkatan kesempatan kerja dan produktifitas kerja Lembang, Bandung.

Program ini dinamakan, paket padat karya infrastruktur jalan sepanjang 750 meter. Paket ini dikerjakan di dua titik. Pertama, di Lalar Liang Kecamatan Taliwang, yakni jalan usaha tani dan kedua di Seteluk Tengah, Kecamatan Seteluk 150 meter, berupa jalan lingkungan.

Pose bersama Bupati, H.Musyafirin dengan warga Gotong Royong.

Jalan yang dibangun dengan model padat karya ini menurut Hamid, benar benar dibutuhkan masyarakat dan merupakan akses penting bagi masyarakat. Misalnya, di Lalar Liang jalan ini digunakan untuk mengangkut Rotan dan hasil kebun. Artinya, akses ini sangat dibutuhkan warga yang menggantungkan hidup disana.

Meski Tidak Miskin Warga Tetap Nikmati Bantuan Pemerintah

Sementara itu, kepala daerah juga menyinggung informasi yang salah bahwa dengan rendahnya angka kemiskinan di Sumbawa Barat, pemerintah akan meniadakan bantuan atau mengurangi bantuan.

Kepala daerah menegaskan kembali bahwa meski tidak miskin pemerintah tetap mengucurkan bantuan kepada masyarakat. Bantuan itu tentu berbeda dengan bantuan untuk warga miskin. Misalnya, bantuan pemberdayaan, peningkatan taraf hidup dengan menciptakan ruang dan kesempatan usaha serta peluang kerja. Salah satunya melalui padat karya ini.

“Kita tidak paksa orang selalu mengaku miskin. Tapi indikatornya mudah dan jelas. Yang penting merubah mental, semangat untuk tidak jatuh miskin. Kalau mental baik, maka kita digiring ke arah yang baik. Tapi mental kita mengaku miskin, maka benar benar dimiskinkan,” terangnya.

Berdasarkan data Kemensos, angka kemsikinan di Sumbawa Barat turun dari semula berjumlah 48 ribu orang menjadi hanya 4530 orang saja atau 1386 kepala keluarga saja.

“Kita turun, 3,32 persen berdasarkan data kemensos. Ini menunjukkan semangat orang KSB tidak ingin miskin. Karena ada miskin kultural karena budaya, ada struktural karena tidak ada akses dan ada miskin karena mengaku ngaku miskin. Ini yang kita urai,” ujarnya lagi. (ZM.ndy-01)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here