Nelayan Bungin Tewas, DKP Diminta Turun

0
68
div class="td-all-devices">

FOTO//Jenazah Jasahuddin, disemayamkan.

“Saya sempat bongkar mesinnya. Masih diperbaiki keesokan harinya sebelum melaut. Tapi, malam hari rupanya Jasahuddin mengganti mesin perahunya diam diam dan nekat bergegas kelaut. Saya sudah dapat firasat buruk, dia nampaknya senang sekali berangkat melaut,” ujarnya, dengan dialek setempat, menghela batas dalam dalam.


SUMBAWA–Jasahuddin, 35 tahun, warga RT 09 RW 04 Dusun Sekatek Desa Pulau Bungin di laporkan tewas, Rabu (24/1) sekitar pukul 16.00 waktu setempat.

Jasahuddin tewas dengan kondisi sekujur tubuhnya terbakar akibat sambaran Petir dahsyat yang mengguncang perairan Pulau Panjang dan Bungin hari itu. Dua saksi mata, masing masing Muhammad Nurman, 37 tahun dan Jon Jusriman, 39 tahun  warga Bungin kepada polisi melaporkan melihat korban tergelatak diatas perahu miliknya sesaat suara petir keras terdengar.

Keduanya, diketahui berada tidak terlalu jauh dari posisi korban di seputaran Pulau Panjang. Keduanya, langsung mengevakuasi korban ke pemukiman untuk di semayamkan.

“Kondisi kulitnya terkelupas dan terbakar pak. Begitu juga rambutnya. Saya dan Jon sempat melingkar bermanuver mendekati perahu dan melihat pak Jasahuddin sudah meninggal,” ujar, Nurman dan Jon kepada polisi setempat, sekitar pukul 17.20 wita.

Nelayan setempat mengaku, ancaman petir kerap dikhawatirkan warga saat puncak musim hujan. Meski demikian, kondisi alam tidak bisa prediksi. Tahun lalu, petir juga memporak porandakan rumah nelayan.

“Seperti minta tumbal setiap tahun pak,” ujar warga setempat.

Sempat Menerima Firasat Buruk

Sukiman, 34 tahun warga Bungin lainnya mengaku memiliki hubungan kekerabatan dengan korban. Sebelum melaut, korban Jasahuddin mengeluhkan mesin perahu rusak dan meminta diperbaiki.

“Saya sempat bongkar mesinnya. Masih diperbaiki keesokan harinya sebelum melaut. Tapi, malam hari rupanya Jasahuddin mengganti mesin perahunya diam diam dan nekat bergegas kelaut. Saya sudah dapat firasat buruk, dia nampaknya senang sekali berangkat melaut,” ujarnya, dengan dialek setempat, menghela batas dalam dalam.

Sementara, sejumlah tokoh nelayan Bungin meminta pemerintah Sumbawa Besar melalui Dinas Kelautan Perikanan (DKP) untuk turun membantu kondisi keluarga korban. Jasahuddin meninggalkan seorang istri dan dua orang anak masih kecil. Tidak jelasnya jaminan asuransi bagi warga nelayan ini, memicu keprihatinan tersendiri.

Sebagian nelayan mengatakan, sebelumnya ada sebagian nelayan mendapatkan asuransi namun tidak banyak. Hingga berita ini diturunkan, warga bersama Bhabinkamtibmas dan Babinsa TNI ikut mengkebumikan jasad korban di pemakaman setempat.

Keberadaan nelayan Bungin dilaporkan ikut berpengaruh besar akan stabilnya pasokan ikan tangkap untuk konsumi di Kabupaten Sumbawa.(ZM.ndy-01)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here