Klaim Lahan AMNT, Picu Konflik Pertanahan 

Caption foto : Azka Huda, Komandan Security 911 berdebat dengan pemilik lahan di fasilitasi perwakilan Reskrim Polres Sumbawa Barat.

Aneh, AMNT Baru Klaim Setelah Bertahun Tahun di Kuasai Masyarakat

SUMBAWA BARAT—Saling klaim kepemilikan lahan antara perusahaan dan warga menjadi persoalan yang kerap terjadi akhir akhir ini. Konflik lahan nyaris kerap terjadi Antara PT. Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) dengan warga. Sebagian berakhir damai dan sebagian berakhir di meja hijau bahkan berujung bentrok.

Baru baru ini insiden nyaris bentrok terjadi antara keluarga Muhammad Saleh dengan security  911 Nawakara Security management PT. AMNT. Security perusahaan tambang emas itu memaksa memasang papan kepemilikan lahan perusahaan namun dihentikan, Alwi Alhinduan, seorang warga Maluk karena lahan yang dimaksud adalah sah milik keluarganya sesuai surat jual beli dan kepemilikan yang sah.

“AMNT harus fair, lahan ini punya kepemilikan yang sah. Perusahaan belum pernah membeli atau membebaskan lahan seluas kurang dari satu hektar tersebut. Kami membeli dari pemilik awal, tercatat di desa dan kecamatan. Perusahaan tidak punya dasar kepemilikan dan pembebasan. Kami memiliki dokumen yang sah,” ujar, Muhammad Saleh, di Maluk (27/10).

Lahan yang ia beli menurut Saleh, sebelumnya masuk dalam lahan pembebasan oleh Newmont, namun sesuai daftar dan dokumen yang ada, lahan yang ia beli bersama sepuluh pemilik lainnya, belum di bayar. Tidak dapat transaksi apapun dan bukti pembayaran, baik di desa hingga ke kecamatan.

” Dan BPN sendiri mengakui bahwa 10 pemilik lahan belum di bayar dan di bebaskan. Atau tidak termasuk HGB. Ada suratnya. Kok AMNT memprovokasi dengan memasang plang setelah saya mau bangun kantor PDI P. Kenapa gak mereka protes sejak lama. Kok baru sekarang. Ada skenario apa ini. Jangan kasus tanah saya dijadikan proyek untuk oknum management,” tudingnya.

Lokasi lahan yang rencana untuk dibangun kantor PAC PDI P kini mulai di klaim PT.AMNT.

Lahan yang persis berada di jalan lintas Maluk Benete atau persis di dekat kantor Telkom Maluk, sempat dijaga dua belah pihak. Beruntung, perwakilan kepolisian terjun kelokasi guna menengahi agar tidak terjadi bentrok.

Perwakilan perusahaan, Azka Huda, menegaskan perusahaan memiliki lahan dimaksud sesuai  Hak Guna Bangunan (HGB) yang sertifikatnya sudah atas nama perusahaan. Sesuai perintah management, pihaknya diminta tetap memasang plang kepemilikan lahan.

Negosiasi sempat deadlock. Sebab, pihak AMNT terkesan baru mengklaim lahan tanpa dasar hukum yang jelas. Padahal, masalah lahan ini telah tercatat dalam akte jual beli sejak 2015 atau sejak Batu Hijau masih dimiliki Newmont. Kondisi ini semakin meyakinkan ada upaya provokasi perusahaan yang seolah olah menginginkan masalah lahan ini diributkan hari ini.

Management AMNT menolak di konfirmasi. Media berusaha menghubungi, Ahmad Salim sebagai pejabat yang bertanggung jawab soal kawasan konsesi AMNT tidak bersedia di konfirmasi. Begitu juga manager SR AMNT, Syarifuddin Jarot juga enggan di konfirmasi.

Masalah lahan, kerap menjadi isu baru di lingkar tambang. Di tengah ketidak jelasan pembangunan smelter, sejumlah warga menyatakan penolakannya menjual lahan. Anehnya, informasi yang dihimpun media menyebutkan bahwa, AMNT akan membebaskan lahan dan membelinya. Informasi itu bahkan disampaikan sejumlah oknum aparat pemerintah desa sendiri.

Sebelumnya klaim lahan juga dilakukan perusahaan milik Arifin Panigoro itu. Diatas lahan pembangunan smelter di dekat pelabuhan Benete. AMNT mengklaim lahan karena memiliki HGB. Setelah di cek ternyata lahan tersebut tidak masuk dalam HGB karena memiliki sertifikat berbeda. Akhirnya, perusahaan melakukan ganti rugi. Pertanyannya, apakah modus sama diulang kembali?.

Yang terbaru, management AMNT juga diketahui telah melaporkan kasus klaim lahan versi mereka ke Polres Sumbawa Barat. (ZM.ndy-01)

Bagikan berita:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *