Memahami Hakikat Pemilu

MATARAM—Agenda rutin lima tahunan, untuk memilih pemimpin daerah kerap kali menimbulkan gesekan antara pelaku, pemilih, sampai penyelenggara. Memahami pemilihan umum dengan aspek teknis, tanpa memaknai nilai, menjadi alasan atas gesekan yang sering terjadi. Hal ini diungkapkan langsung oleh Prof. Dr. Suprapto, Sosiolog asal UIN Mataram, dalam agenda Focus Group Discussion (FGD) dengan tajuk “Mewujudkan Pilkada Demokratis dan Damai di NTB tanpa Black Campaign, Hoax, dan Ujaran Kebencian,” yang digelar oleh Nusatenggara Centre (NC) di Mataram, Selasa (25/2). Turut hadir dalam agenda FGD tersebut, Itratip Perwakilan Bawaslu NTB , pakar komunikasai politik Dr. Kadri, sosiolog Prof. Suprapto.

Suasana FGD pada Selasa (25/2)

Anggota Bawaslu NTB Itratip menuturkan agar proses pengawasan berlangsung maksimal, Bawaslu melibatkan berbagai elemen masyarakat untuk andil dalam hal ini. “Kita telah membentuk kader-kader di beberapa daerah yang dijadikan pengawas partisipatif,” ungkapnya.

Dengan cara tersebut tugas Bawaslu menjadi terbantukan. Selain kader pengawasan yang terdiri dari 10 orang per kab/kota, Ia juga menyampaikan bahwa Bawaslu telah membuat Kampung Pengawasan (kampung yang teridentifikasi rawan). Di kampung tersebut Bawaslu bekerja sama dengan Tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi kepemudaan dll. untuk menciptakan pemilu damai berintegritas.

Dalam penyampaiannya pakar komunikasi politik Dr. Kadri mengungkapkan penggunaan media sosial oleh masyarakat yang terus meningkat. Menurutnya fenomena ini membuat perilaku politik dan kontestasi masyarakat mengalami perubahan. “Tensi politik jelang Pilkada umumnya berlangsung aman. Namun suasana di dunia mayalah (media sosial) yang terasa panas oleh perang statement, status, meme dll. antar pendukung pasangan calon kepala daerah. Senjata yang digunakan juga tak lagi berbentuk fisik, melainkan berubah menjadi berita bohong, kampanye hitam, ujaran kebencian, dan lain sebagainya,” terang Kadri.

Pendidikan politik seharusnya diberikan bukan hanya pada momentum pemilu. Hal ini seharusnya menjadi edukasi yang diberikan dalam kehidupan sehari-hari baik oleh orang tua kepada anaknya, guru kepada siswanya, tokoh agama kepada jemaahnya, dan seterusnya.

Sosiolog Prof. Suprapto menjadi pembicara terakhir dipagi itu. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk selalu mengedepankan nilai-nilai luhur yang menjadi identitas bangsa, bukan ego masing-masing golongan yang bisa mengakibatkan konflik. Bagi dia perbedaan adalah sebuah keniscayaan, namun keberagaman yang dimiliki harus dirawat dengan baik agar menjadi modal besar dalam kemajuan daerah kita tercinta.
Di akhir agenda, seluruh peserta diskusi melakukan deklarasi melawan hoax, kampanye hitam, dan ujaran kebencian demi terciptanya Pilkada damai yang berkualitas.

Bagikan berita:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *