Ryan Syafri Polisi Penjaga Tradisi di Pusaran Tambang

SUMBAWA BARAT—-Budaya manusia terus berkembang secara dinamis dari masa ke masa. Meski zaman terus berubah dan mulai mengikis jejak jejak budaya leluhur kini, namun sebagian masyarakat¬† masih saja mempertahankan kebiasaan masa lampau agar hubungan sosial kemasyarakatan tetap terjaga.

p_20161017_142821
Berbincang santai tokoh masyarakat setempat dengan Bhabinkamtibmas, Kapolsek Sekongkang, Ipda Budi P, menikmati sejuknya balai poskamling, tengah hari sembari berdiskusi.

Namun, jarang memang para tokoh, ulama bahkan abdi negara konsen mengembalikan nilai nilai budaya lokal yang hampir punah itu.

Cita cita sederhana itu setidaknya ingin terus dijaga bahkan dicita citakan dapat terpelihara hingga ujung zaman maju seperti sekarang ini. Tujuannya sederhana pula, guna kembali memperkuat interaksi sosial penuh kekeluargaan dan gotong royong.

Adalah Brigadir Riyan Syafri Fahlevi, pria 32 tahun anggota Bhayangkara Pembina Kemanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) yang kembali menghidupkan budaya ‘Montok Batuter ke musyawarah’ di sebagian masyarakat Kecamatan Sekongkang, khususnya Desa Sekongkang Atas dimana ia bertugas.

Budaya montok batuter ini sejatinya menjadi falsafah dasar budaya Tau Samawa (orang Sumbawa, red). Baik Sumbawa Besar dan Sumbawa Barat. Hanya saja, tentu menjadi langka mendapati kegiatan budaya sosial seperti ini di kawasan yang kini menjadi salah satu pusat ekonomi dan peradaban seperti tambang di batu hijau milik PT Newmont Nusa Tenggara.

p_20161017_143143
Manaruh, 60 tahun, sesepuh desa, ‘batuter’ atau berkisah tentang sejarah balai balai kecil yang biasa digunakan masyarakat dahulu untuk bermusyawarah atau montok batuter.

“Saya sebagai masyarakat dan pekerja tambang, tentu bergelut dengan rutinitas yang menyita waktu. Tapi, kami bersyukur ada seseorang yang menggagas bahkan semangat menghidupkan budaya berkumpul dan bermusyawarah di pos kamling ini,”kata, H.Abdul Rahman, ketua RT 02 RW 03 Desa Sekongkang Atas, mengulik kembali budaya kegemaran masyarakatnya itu, Senin (17/10).

H. Abdul Rahman selain ketu RT, ia juga tokoh masyarakat disana. Ia mengatakan, budaya bertuter dan musyawarah merupakan warisan para petua desa sejak lampau. Di zaman dahulu, warga asli sekongkang sering berkumpul disebuah balai kecil seperti pos ronda untuk sekedar bercengkeramah sembari berdiskusi dan bertukar informasi. Ini menurutnya, yang di gagas kembali Brigadir Riyan Syafri Fahlevi ini.

“Dia ini cukup lama jadi bhabinkamtibmas disini. Kami semua kenal dia, dialah yang terpanggil mencetuskan ide montok sambil batuter ini. Kami bangga dan sudah mempraktikkan itu hingga sekarang. Selain memfungsikan pos kamling untuk menjaga keamanan, pos ini kami jadikan sasana budaya montok batuter tadi,”ujarnya.

Kisah lain diungkap Manaruh, 60 tahun, pria lanjut usai ini sehari hari bekerja sebagai petani ladang beternak. Sembari menarik rokok dari lilitan daun lontar dalam dalam, pria ini menuturkan hal unik yang masih terus dipertahankan hingga kini. Salah satunya, potongan lonjoran bambu yang terikat karung goni. Karung ini terbuat dari serat lilitan anyaman tali dari palepah kayu. Karung tadi sejak dulu muda menyerap banyak air.

“Nah, lonjoran bambu dan karung tadi biasa di pasang di balai balai atau pos ronda tadi. Itu di gunakan untuk memadamkan api jika ada kebakaran. Sejak dulu memang begitu, kami masih menggunakan lonjoran bambu untuk berjaga jaga,” kata, Manaruh yang sudah sepuh itu.

p_20161017_142707
Brigadir Riyan Syafri Fahlevi menunjukkan papan informasi wajib lapor salah satu Poskamling di Desa Sekongkang Atas, dimana warga biasa berkumpul.

Menurutnya, polisi dulu dan kini berubah. Bhabinkamtibmas Riyan Syafri sangat dekat dengan warga. Setiap hari ini ia berkeliling dan menanyakan kepada warga tentang masalah yang dihadapi.

“Saya tidak malu untuk mengadu ke bapak bhabin ini. Karena dialah, saya dan warga selalu berkumpul menjaga lingkungan dan berdiskusi sembari bersilaturohmi di pos ronda,” katanya polos.

Baik H. Abdul Rahman dan Manaruh,  polisi jauh berubah. Dulu masih sedikit menakutkan, tapi hari ini dengan adanya bhabinkamtibmas tadi polisi sudah menjadi bagian masyarakat. Polisi hari ini berubah menurut keduanya karena semakin dekat dengan warga.

p_20161017_143213
Lokasi bangunan Poskamling yang dibangun swadaya masyarakat bersama bhabinkamtibmas. Pos kamling ini terletak persis dipintu jalan utama masuk desa. Warga memasang portal sebagai tanda jam kunjungan di batasi.

“Saya melihat pos ronda bisa di fungsikan lebih baik, tidak hanya menjaga kemanan dan ketertiban lingkungan namun bisa menjadi sarana interaksi sosial yang baik, dan ini menjadi budaya batuter dan musyawarah masyarakat sekongkang secara turun temurun,” kata, Riyan Syafri Fahlevi kepada wartawan.

Di Sekongkang Atas kata dia, jumlah penduduknya lebih dari 2400 jiwa dengan sekitar 600 kepala keluarga. Warga disini mayoritas sebagai karyawan tambang, petani dan peternak. Menurutnya, tidak sulit menyatukan warga untuk kembali menjaga nilai nilai budaya batuter warisan orang tua dulu. Hanya memang butuh komunikasi, duduk bersama serta memahami kondisi sosial masyarakat apa adanya.

p_20161017_143643
Kentongan yang terbuat dari Bambu, masih saja digunakan warga di poskamling. Kentongan ini menjadi ciri pos kamling tradisional.

Disekongkang, menurutnya, hampir tidak ada kasus kriminalitas, baik perampokan, pencurian ataupun masalah konflik lainnya. Masyarakat disini landai landai saja. Akan tetapi, diakui masalah sosial masih terjadi. Misalnya konflik masalah rumah tangga.

p_20161017_124755
Kapolsek Sekongkang, Ipda Budiman P, bersyukur dan berterimakasih kepada tokoh dan masyarakat Sekongkang Atas karena mengapresiasi positif atas kinerja anak buahnya.

” Nah, dengan kembali memelihara budaya montok batuter dan musyawarah seperti ini, kami harap warga bisa saling memberi masukan. Terutama ¬†kontrol ulama, tokoh masyarakat dan pemuda bisa kembali berfungsi,”demikian Riyan Syafri Fahlevi.

Kapolsek Sekongkang, Ipda Budiman Parangin Angin mengatakan kebijakan kepolisian terhadap bhabinkamtibmas terus di upayakan lebih produktif. Mampu menangkap persoalan mendasar di masyarakat serta juga menjaga agar masyarakat berpartisipasi dalam pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat sebagaimana kebijakan Promoter Kapolri nomor tujuh, yakni meningkat partisipasi dan peran serta masyarakat guna mewujudkan kamtibmas.

“Saudara Riyan Syafri termasuk salah satu Bhabinkatibmas yang menonjol di daerah binaannya. Saya mengapresiasi masukan baik para tokoh masyarakat tentang kinerjanya “demikian, Kapolsek. (ZM.ndy-01)

Bagikan berita:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *