Merugi, Pengusaha Terpaksa Hentikan Kirim Sapi

Caption foto//Puluhan Sapi potong tertahan atau batal kirim di Pusat Karantina Hewan, di Poto Tano, Kamis (16/5).

//Gubernur Sudah Berikan Diskresi

SUMBAWA BARAT—Pemerintah Sumbawa Barat melalui Dinas Pertanian dan Peternakan mulai melakukan penertiban pengiriman ternak khususnya Sapi antar pulau.

Kebijakan itu diambil berdasarkan hasil rapat koordinasi dengan Dinas Peternakan NTB akibat turunnya hasil investigasi Ombusdman baru baru ini.

Ombusdman menyebut terjadi kelalaian dan mal administrasi pengusaha ternak karena tidak tunduk dengan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 25 tahun 2005 tentang, pedoman pengeluaran atau pemasukan ternak dan bahan asal ternak.

Dalam Pergub itu diatur, bahwa berat hidup Sapi potong yang dikirim antar pulau harus mencapai bobot 300 kilogram. Diluar itu, tidak bisa dikirim. Ombusdman menemukan, ketidak tundukkan pengusaha ternak yang tetap saja memaksa mengirim ternak dibawah bobot tersebut.

Sebelumnya, pengusaha ternak lokal memprotes aturan ini karena menilai populasi berat hidup Sapi di daerah rata rata kurang mencapai bobot standar tersebut. Akibatnya, daerah daerah, khususnya Sumbawa dan Sumbawa Barat terancam tidak mampu memenuhi kuota pengiriman yang diberikan.

“Populasi kita di KSB rata rata kurang atau di bawah bibit itu pak. Makanya, kita kesulitan mengirim ternak untuk memenuhi kuota. Usaha kita bisa macet,” kata, Joni Santoso, salah seorang pengusaha ternak asal Sumbawa Barat, kepada media, di Karantina Poto Tano, Kamis (16/5).

Pengusaha Sapi Potong setempat mengaku, Rata rata populasi Sapi Potong di Sumbawa Barat berbobot dibawah 250 kilogram.

Menurut Joni, sejak penertiban aturan dari pemerintah itu, hanya satu ternak dari 15 ekor Sapi yang bisa di kirim. Kondisi ini tentu sangat merugikan pengusaha akibat uang tidak berputar. Ia meminta pemerintah kabupaten memfasilitasi solusi agar ada Diskresi standar bobot berat hidup khusus Sapi asal KSB.

Tidak hanya soal bibit, Joni juga menyoroti kebijakan Disnak NTB yang hanya merekomendasikan dua pengusaha pemilik hak rekom di Kabupaten Lombok Timur, dimana ternak potong harus di kirim.

“Dua pengusaha ini tidak siap untuk mengakomodir pasokan ternak di Sumbawa dalam jumlah besar dalam waktu bersamaan. Ini juga menyebabkan pengusaha merugi dan kehilangan banyak waktu karena modal tidak berputar. Inilah yang kami minta di tinjau ulang,” pintanya.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Sumbawa Barat, Suhadi, mengatakan pemerintah tetap memberikan izin pengiriman sepanjang sesuai aturan yang berlaku tadi. Jika bobot di bawah itu, tentu tidak di beri izin kirim.

“Kita koordinasi dengan pihak pengusaha, untuk memastikan dan mengecek bahwa temuan Ombusdman NTB itu tidak terjadi di KSB. Juga untuk mengingatkan teman pengusaha ternak sapi potong yang mengirim ternak ke luar pulau Sumbawa agar tidak mengabaikan aturan ini,” kata, Suhadi.

Sementara itu, data sementara menyebutkan, Sumbawa Barat sendiri menerima sedikitnya 3500 kuota Sapi potong untuk dikirim antar pulau setiap tahunnya. Protes atau keberatan peternak ini beralasan, sebab jika aturan itu tetap dipaksakan, maka kuota pengiriman asal Sumbawa Barat tidak bisa terpenuhi.

Sebelumnya, Gubernur NTB, Zulkiefli Mansyah memberikan Diskresi atau keringanan untuk menurunkan standar bobot ternak Sapi Hidup hingga hanya 250 kilogram. Penurunan standar bobot itu, berdasarkan kesepakatan antara Pemprov dengan asosiasi yang menaungi pengusaha ternak di NTB.

Temuan Ombusdman sendiri dirilis enam Mei 2019 lalu. Ombusdman mengungkap laporan aksi manipulasi dan praktik maladministrasi pengiriman Sapi potong dari Pulau Sumbawa ke Pulau Lombok terus terjadi.

Jika kondisi ini dibiarkan, maka akan terjadi penurunan populasi secara drastis serta tidak berkembangnya nilai tambah dari usaha peternakan, seperti, usaha penggemukan Sapi dan usaha pakan.

Sebelumnya, sejumlah pengusaha ternak Sapi potong Sumbawa Barat terpaksa menghentikan pengiriman Sapi mereka karena tidak memenuhi standar bobot sesuai aturan.  Di Sumbawa Barat sendiri hanya ada tiga pengusaha ternak Sapi potong yang memiliki izin pengiriman antara pulau.

Rata rata tiga pengusaha itu mengirim masing masing 15 ekor Sapi potong ke pulau Lombok per minggunya. (ZM.ndy-01)

Bagikan berita:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *