RSUD Asy Syiffa Butuh Gedung Baru

SUMBAWA BARAT— Dengan beragamnya jenis kasus yang ditangani di RSUD Asy Syifa Sumbawa Barat, maka dibutuhkan peningkatan kualitas layanan. 

Salah satunya dengan tersedianya fasilitas ruangan yang memadai sebagai prasyarat terbukanya layanannya baru. Daya tampung rumah sakit dinilai belum mencukupi. Kondisi ini menjadi kendala yang paling utama, selain faktor ketersediaan tenaga medis dan alat penunjang lainnya.

Oleh karena itu, pihak RSUD Asy Syifa terus berupaya mendorong agar pembangunan gendung baru sesuai grand disain rumah sakit bisa segera direalisasikan.

“Untuk penambahan gedung, setiap tahun kami selalu ajukan usulan anggarannya ke pusat melului Kementerian Kesehatan. Kami belum tahu sampai saat ini kendalanya kenapa belum disetujui, mungkin anggarannya cukup besar sehingga prosesnya cukup lama, yakni senilai 125 Milliar untuk satu gendung dan satu jembatannya,”Ujar Direktur RSUD Asy Syifa Sumbawa Barat, dr. Charlof kepada media ini di ruangannya, kemarin (27/10).

Ia mengakui, memang untuk penambahan gedung baru RSUD Asy Syifa Sumbawa Barat jika dilihat dari volume pasien memang belum masuk kategori sangat membutuhkan.

Namun, jika ditinjau dari jenis kasusnya yang dirujuk ke Mataram, maka bisa masuk kategori dibutuhkan. Efektivitas pelayanan akan lebih maksimal jika bisa ditangani langsung di RSUD Asy Syifa, terlebih ketika bencana melanda.

Belumlagi bangunan rumah sakit saat ini didisain hanya untuk rawat jalan, perkantoran, dan untuk pemeriksaan penunjang sehingga tidak di disain untuk rawat inap.

“Area rujukan kita cukup jauh, kita perlu melakukan rujukan ke Mataram. Apalagi jika kondisi pelabuhan mengalami system buka tutup dermaga kan kita sangat terkendala sekali. Nah, jika persoalan medis tersebut bisa terselesaikan disini, maka sangat baik sekali untuk memaksimalkan pelayanan,” Imbuhnya.

Kendati demikian, pihak RSUD Asy Syifa tetap memaksimalkan pelayanan seideal mungkin. Bahkan salah satu indikator keberhasil kinerjanya, dilihat dari angka rujukan tahun 2018 yang trendnya relatif menurun jika dibanding tahun sebelumnya.

“Data kami di tahun 2017, jumlah pasien yang dirujuk mencapai 5 persen dari total 20.000 pasien per tahunnya. Tapi jika dilihat 5 persen nya kelihatan kecil. Namun dari 20.000 pasien tadi, bisa kita dapatkan angka sekitar 1.000 pasien rujukan, jadi kalau kita kalkulasikan perhari minimal ada 3 pasien yang kita rujuk,”demikian, Carlof.

Data RSUD, di tahun ini (2018,red) laporan bulanannya mencapai kisaran  3 persen hingga 4 persen, artinya sudah lebih berkurang lagi. Itu menandakan, jika pelayanannya lebih maka akan terus berkurang, termasuk pelayanan jika adanya gedung baru. (ZM.ndy-01)

Bagikan berita:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *