Sang Pelopor di Garis Pantai

SETELUK —Kepolisian Sumbawa Barat mendorong partisipasi simpul simpul kelompok masyarakat untuk menggalakkan keamanan dan deteksi dini tindak kejahatan di perairan, khususnya pantai.

p_20161013_105531
Bhabinkamtibmas Desa Tua Nanga, Brigadir Munandar mendampingi Kapolsek Seteluk AKP Kadek Supartha bersama Sekdes Desa Tua Nanga, meninjau kesiapan Pos pantau.

Kebijakan ini diambil guna memaksimalkan peran kepolisian dibidang pembangun kesadaran dan partisipasi masyarakat terhadap keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas) sesuai dengan program Promoter Kapolri nomor tujuh. Sekaligus bagian dari penguatan Pemeliharaan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Harkamtibmas).

Saat ini, kelompok Pengawas Masyarakat (Pokmaswas) di sepanjang wilayah pantai terus dikoordinasikan dan di galang oleh Bhayangkara Pembina Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) untuk membuat kegiatan terencana pengamanan dan deteksi dini terhadap ancaman krimanilitas serta kejahatan trans wilayah di kawasan pantai.

“Di Tua Nanga ini, kami bersama pemerintah desa dan masyarakat membentuk tim terpadu pengawasan pemantauan wilayah pantai. Tim ini dikoordinasi dan bertugas di Pos pemantauan Kamtibmas terpadu,” ujar, Bhabinkamtibmas Desa Tua Nanga, Brigadir Munandar Habibi, di Tua Nanga, Kamis (13/10).

p_20161013_105835
Suasana diskusi ketua Pokmaswas Desa Tua Nanga, Abdul Wahab bersama Kapolsek Seteluk.

Menurut, Munandar, bahwa keamanan dan ketertiban masyarakat hanya bisa diwujudkan secara maksimal melalui peran aktif swadaya masyarakat, yang bersinergi dengan institusi penegak hukum. Hal inilah yang tengah terus digalakkan atau dilakukan masyarakat bersama polisi saat ini.

“Alhamdulillah karena partisipasi masyarakat lah sehingga kondusifitas diwilayah Desa Tua Nanga dapat terwujud kini. Hingga pemerintah daerah berkomitmen untuk mendukung pembangunan pos pemantauan ini secara terus menerus,”akunya.

Pos pemantauan terpadu ini lanjutnya, Munandar telah dibangun pemerintah Sumbawa Barat. Bangunan tadi dibangun atas usulan dan permintaan masyarakat setempat kepada pemerintah. Upaya masyarakat dan pemerintah desa tadi tidak lepas dari tingginya partisipasi terhadap pengamanan wilayah yang terus digalakkan kepolisian Sektor Seteluk Poto Tano.

“Setiap waktu, Bhabinkamtibmas terus bertemu dan hadir bersama kami membahas situasi keamanan dipantai. Pemukiman warga Tua Nanga hanya berjarak 500 meter dari pantai, jadi warga merasa penting untuk menjaga hewan ternak serta harta benda dari ancaman pencurian ternak yang memanfaatkan jalur laut,” kata, Sudarmono, Sekretaris Desa Tua Nanga, menyikapi pentingnya keberadaan pos pantau tersebut.

Penduduk Tua Nanga sendiri, kata dia, terdiri dari 1502 jiwa atau 353 Kepala Keluarga (KK). Sebagian besar warga berprofesi sebagai petani, peternak dan sebagian nelayan. Jadi menurutnya, pengamanan diwilayah pantai menjadi kebutuhan penting bagi warga.

Ia mengaku, patroli dan pemantauan rutin petugas polisi di desannya sangat menginspirasi warga untuk mau turun dan ikut mengamankan pantai. Meski sejauh ini kawasan pantai cenderung aman, namun keberadaan pos pantau menjadi pusat pertemuan tim gabungan antara polisi dan pokmaswas serta warga. Pokmaswas sendiri adalah program pemerintah kabupaten melalui Dinas Kelautan Perikanan (DKP). Dengan adanya pos pantau terpadu tadi, kegiatan pokmaswas kini lebih terarah.

p_20161013_105052
Posisi Pos pantau terpadu yang menghadap langsung ke garis pantai memudahkan pengawasan.

“Kami bersyukur keberadaan Bhabinkamtibmas di desa kami. Atas dorongan dan konsultasi dengan bhabinkamtibmas, kepolisian Sektor Seteluk rutin berpatroli dan memantau. Tapi dengan adanya pos ini, kegiatan patroli bapak polisi bisa terpusat,” kata, ketua Pokmaswas Desa Tua Nanga, Abdul Wahab, 41 tahun, kepada wartawan.

Kepolisian Sektor Seteluk melaporkan, kejahatan pencurian ternak melalui jalur laut dan pantai menjadi atensi khusus polisi. Paska kejadian bentrok antara polisi yang didukung masyarakat dan para perampok ternak di daerah itu, 2014 silam, polisi setempat terus meningkatkan upaya upaya pengamanan termasuk melalui patroli dan pembentukan tim pemantaun terpadu tadi.

Bentrok polisi yang didukung masyarakat dengan kawanan rampokbternak menewaskan dua perampok dan seorang dari warga. Perampok yang menggunakan senjata api rakitan berhasil dikepung polisi dan warga. Semenjak kejadian itu polisi bahu membahu dengan masyarakat dibantu personil TNI dari koramil Seteluk melakukan deteksi dini dan pengamanan hingga kini.

“Baru baru ini kami telah menangkap empat orang tersangka pencuri ternak dan barang bukti satu ekor Sapi jantan. Keemoat ditangkap karena laporan dan partisipasi masyarakat melalui Bhabinkamtibmas,” kata, Kapolsek Seteluk, AKP Kadek Supartha, di kantornya, Kamis.

Kapolsek yang sudah 11 tahun menjabat ini berhasil membangkitkan partisipasi masyarakat untuk membantu keamanan dan ketertiban masyarakat serta penegakkan hukum. Ini terbukti dari rendahnya angka kriminalitas diwilayah tugasnya serta berhasil memperkuat sinergi antara polisi dan masyarakat.

Sebelumnya, data Badan Pemeliharaan Keamanan Laut (Barkamlah) pusat menyebutkan Indonesia mengalami kerugian setidaknya 22 juta dollar AS setiap tahunnya akibat pencurian ikan, penyelundupan, dan aksi aksi kriminalitas melalui perairan dan garis pantai. Data itu dirilies Barharkamla sejak tahun 2005 silam. Kerusakan ekosismtem laut, banyak pencurian ternak, hewan dan tanaman laut langkah yang dilindungi menjadi penyumbang terbesar kerugian negara. (ZM.ndy-01)

Bagikan berita:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *