Siapa Otak di Balik Pembunuhan H. Alfan

TALIWANG—-Kepolisian Daerah (Polda) NTB kini tengah disorot. Kasus tewasnya, H.Muhammad Alfan, 52 tahun, warga Taliwang, Sumbawa Barat masih menyisahkan pertanyaan misterius. Siapa sesungguhnya, otak dari skenario eksekusi pengusaha terkenal di ibu kota Sumbawa Barat itu.

Kepolisian Resort Mataram, dilaporkan tengah menahan, EW, 33 tahun bersama suaminya, JM karena diduga sebagai pelaku pembunuhan atas H.Ahmad Alfan. Keduanya kini menjalani proses hukum bahkan kasus terhadap keduanya telah memasuki proses persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Mataram.

Polres Mataram bahkan telah melakukan rekonstruksi pembunuhan pengusaha yang di kenal dekat dengan pejabat teras di Sumbawa Barat tersebut.

d8427b6e20092c53cc71635ea7f86a16
Ilustrasi rekonstruksi pembunuhan H. Ahmad Alfan.

Direktur Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda NTB, Kombes Pol Suryo Saputro mengatakan, perkembangan hasil penyidikan terhadap pembunuhan H.Ahmad Alfan dengan tersangka EW dan suaminya, JM belum dilaporkan kepadanya. Ia bahkan tidak mengetahui laporan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) atas EW yang menyebut nyebut otak pembunuhan terhadap H.Ahmad adalah oknum politisi dan juga pejabat teras di Sumbawa Barat.

“Saya belum dapat laporan detailnya. Nanti saya cek kepada penyidik khusus,”kata Suryo singkat, dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Selasa(25/10).

Sumber keluarga EW menyebutkan, kasus pembunuhan dengan tersangka EW dan Suaminya JM telah di sidangkan beberapa kali di Pengadilan Negeri (PN) Mataram. EW berulang kali juga menyebutkan nama seorang politisi dan pejabat teras KSB berisial FS terlibat dan memerintahkan eksekusi terhadap H.Ahmad Alfan.

“Di hadapan majelis hakim, EW bahkan berulang ulang menyebut nama pejabat ini yang mengarahkan agar H.Ahmad yang merupakan saksi kunci kasus korupsi dana kas Dikpora tahun 2015 yang juga diduga melibatkan FS dieksekusi mati,” kata sumber tersebut yang intens mengikuti persidangan keluarga dekatnya itu, belum lama ini.

Sebelumnya, EW dalam sebuah wawancara dengan wartawan mengakui, pembunuhan terhadap H.Ahmad Alfan atas perintah lisan FS. Ketika itu, EW dalam pelariannya ke Malaysia hingga terpaksa bertahan di Lombok Timur di rumah sang mertua. Dalam pelariannya, EW mengaku ia diarahkan FS. Ia juga di minta menggonta ganti nomor telepon agar tidak bisa dilacak.

“Perintah lisan untuk membunuh ada ke saya dari dia FS. Tapi saya diminta membuang kartu sim telepon saya,”katanya, lagi.

EW bahkan menegaskan, kasus pembunuhan itu terjadi erat kaitannya dengan kasus korupsi kas Dinas Pendidikan Kebudayaan dan Olahraga (Dikpora) setempat  lebih Rp  600 juta yang menjerat dirinya. Sebab, H.Ahmad Alfan menurutnya saksi kunci keterlibatan FS terkait hilangnya uang tersebut.

“Uang itu diterima H.Ahmad Alfan atas suruan FS. Ketika itu hari Jum’at saya cairkan awalnya Rp 500 juta. Lalu saya berikan ke H.Ahmad persis di depan gerbang KTC, pusat kantor pemerintahan. Dalam sebuah tas saya serahkan langsung diatas mobil bak terbuka milik H.Ahmad,”akunya.

Pengakuan EW ini tentu saja masih perlu di buktikan. Kini  tinggal pengungkapan kasus ini ditangan penyidik polres Mataram dan jajaran di bawah kendali Dirkrimum Polda NTB. Apalagi semenjak kasus raibnya dana Uang Pengganti (UP) Dikpora setempat mencuat, EW menghilang. EW mengakui ia terpaksa harus melarikan diri berbulan bulan demi menghindar dari jerat kasus korupsi.

EW bahkan menyebutkan, ia menjadi bendahara Dikpora ada campur tangan FS yang ketika itu masih menjadi politisi dan bantuan pejabat teras pemda lainnya. Benarkan EW hanya korban atau tumbal. Siapakah sesungguhnya FS, dan bagaimana sosok dan sepak terjang tokoh yang disebut sebut ikut menikmati dana kas Dikpora untuk kepentingan politik. Kita tunggu saja. (ZM.ndy-01)

Bagikan berita:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *