Tak Ada Promosi Wisata Jika Praktik Kejahatan Lingkungan Masih Terjadi

Foto Ilustrasi//

MATARAM– Dinas Pariwisata Provinsi NTB meminta ada upaya penegakkan hukum yang masif terhadap kejahatan lingkungan seperti Penambangan Tanpa Izin (PETI) hingga memicu  pencemaran akibat penggunaan bahan kimia berbahaya seperti Mercury dan Sianida.

Buruknya lingkungan hidup dan maraknya pencemaran bisa menimbulkan rendahnya kepercayaan wisatawan terhadap Pariwisata NTB.

“Pariwisata tidak akan hadir selama tidak didukung dengan kesesuaian lingkungan. Pariwisata itu sangat bergantung dengan keberpihakan pelestarian lingkungan,” kata, Kepala Dinas Pariwisata NTB, L.Mohammad Fauzal, kepada pers, di Mataram, Sabtu (7/6).

Pemprov kata Mohammad Fouzal meminta Bupati atau Walikota Kota sesuai dengan kebijakannya bisa menertibkan tambang ilegal yang berakibat terhadap kerusakan lingkungan.

Dinas Pariwisata menurutnya tidak berbicara terhadap konten pengendalian lingkungan karena bukan otoritas pihaknya. Hanya saja,  sebagai upaya menekan persepsi buruk terhadap kualitas wisata NTB, ia merasa perlu menyampaikan komitmen semua pihak untuk memerangi kejahatan lingkungan tadi.

Lalu Mohammad Fauzal menegaskan, pihaknya hanya bisa menyampaikan langkah kongkrit penanganan dampak kerusakan lingkungan akibat tambang ilegal dan kerusakan lingkungan lainnya.

“Kita tidak bisa bicara promosi selama praktik pengrusakan lingkungan terus terjadi,” demikian, Fauzal.

Kepala Dinas Pariwisata NTB, Lalu Mohammad Fauzal.

Menanggapi merebaknya tambang ilegal di Sumbawa Barat dan Sumbawa, Lalu Fauzal meminta Bupati harus segera bertindak. Sudahi tambang ilegal dan peredaran bahan kimia berbahaya seperti Mercuri dan lain lain.

Sebagaimana di ketahui, dalam waktu dekat, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) akan menjadi salah satu kiblat wisata kelas dunia.

Betapa tidak, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Lombok Tengah terus berbenah hingga gelaran Motor GP 2021 mendatang. Sadar tidak sadar, tamu-tamu daerah akan mencoba menyasar atau menjamah kearifan lokal semua kabupatendan kota bahkan hingga pelosoknya. Baik itu mencicipi kuliner, adat atau budaya.

Nah, ketika para pelancong dunia tersebut berkunjung ke pelosok, tentu wisatawan akan dihadapkan dengan kondisi real (asli) dari daerah itu sendiri. Mereka akan melihat petani bercocok tanam, aktifitas ekonomi, pelayanan publik bahkan sampai kepada kondisi lingkungan dimana mereka berpijak.

Kabupaten Sumbawa Barat khususnya merupakan satu dari sepuluh kabupaten kota di NTB yang potensinya tak perlu diragukan lagi.

Daerah dengan motto Pariri Lema Bariri itu memiliki kepariwisataan kelas dunia. Sebut saja dua tempat wisata di Kecamatan Poto Tano, yaitu pesona Desa Mantar, yang dianggap oleh sejumlah paraglider (sebutan atlet paralayang) mirip dengan The Blue Lagoon, Oludeniz, Turkey — bahkan pernah ditunjuk menjadi tuan rumah event Trip Of Indonesia (Troi) seri-III beberapa tahun lalu.

Selain itu, eksotika gugusan ‘Gili Balu’ (Delapan Gili,red) tidak bisa dianggap enteng. Satu dari delapan pulau yang ada, Pulau Kenawa pernah menjadi pilot project pembangunan earthship (rumah ramah lingkungan) yang pelopori oleh arsitek dunia, Mike E Reynold-turut membawa mitranya.

Sebelumnya, pemerintah setempat melalui pengujian sampel air sungai di labolatorium dalam kurun waktu Juli tahun 2013, oleh Dinas KPP Sumbawa Barat, ditemukan konsentrasi logam Mercuri dalam air 0,466 mg/l. Angka tersebut terpaut jauh dari angka baku mutu yang distandarkan sebesar 0,001 mg/l. (ZM.ndy-01)

Bagikan berita:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *