Tani NTB Puji Irigasi Tetes

Industrialisasi Pertanian Bagian 3

Laporan Awin Azhari-Mataram

Nusa Tenggara Barat sedikitnya memiliki luas lahan pertanian jagung sebesar 120.000 hektar. Areal ini menghasilkan 720.000 ton jagung komersial. Visi NTB Gemilang dengan point ke lima NTB Sejahtera dan Mandiri, harus memberikan perhatian lebih dalam sektor pertanian khususnya jagung, mengingat bidang ini kedepannya menjadi salah satu jawaban kesejahteraan dan kemandirian masyarakat.

Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB, sebagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang mengambil andil besar dalam susksesnya NTB Gemilang point kelima ini menemukan tantangannya. Penyusutan lahan, alih fungsi lahan dan subsidi sarana pertanian yang turut berkurang, membuat Distan NTB harus bekerja lebih keras. Masalah lain timbul juga karena iklim yang terus berubah.

Tantangan pemerintah mengembangkan pertanian di NTB (Sumber: Distan NTB)

Sektor pertanian sangat bergantung pada ekosistem disekitarnya. Iklim, unsur tanah, ketersediaan air menjadi faktor penting yang alam sajikan untuk petani. Sebab ekosistem ini pemberian alam, maka semua komponen tersebut dikendalikan oleh alam. Keadaan alam akan berbanding lurus dengan hasil pertanian. Berapa banyak lahan pertanian akhirnya gagal panen karena pengairan yang minim.

Disamping itu, pertumbuhan penduduk NTB 1,3% setiap tahunnya menuntut ketersediaan pangan yang terus meningkat. Menjawab tantangan ini, Distan NTB telah melakukan mekanisme pertanian dengan presisi farming artinya, pertanian tepat guna dengan memaksimalkan potensi ketersedaiaan lahan. Salah satu bagian penting dari presisi farming ialah mengatur system pengairan, agar air tidak terbuang percuma, dan secara bersamaan menambah laju produksi pertanian khususunya jagung.

Sistem pengairan pada pertanian menjadi hal yang penting. Air menjadi pelarut unsur hara pada tanah, kemudian diserap oleh tumbuhan untuk proses metabolisme tumbuhan. Air juga menjadi pengisi cairan tumbuhan. Maka bukan hal sepele jika dalam pertanian, ketersediaan air menipis atau kualitasnya menurun.

Petani tidak saja membutuhkan sistem pengairan yang selalu tersedia, melainkan juga mampu menambah laju produksi hasil tanam di NTB. Irigasi tetes atau Drip Irrigation menjadi solusi persoalan ini.

“Jagung yang tadinya hanya bisa dipanen sekali setahun, kini bisa minimal tiga kali setahun dengan hadirnya drip Irrigation dengan hasil tiga bahkan empat kali lipat, ”. Ungkap Gubernur NTB Zulkieflimansyah saat menyambangi lokasi penggunaan irigasi tetes di Kabupaten Lombok Utara atau KLU (7/9).

KLU menjadi model penggunaan sistem irigasi tetes. Tanah yang kering bisa dimanfatkan sebagai lahan pertanian jagung. Bukan saja bisa, melainkan produktivitasnya meningkat. Awalnya jagung hanya lldipenan dua kali dalam setiap tahun, namun bertambah menjadi tiga sampai empat kali dalam setahun karena sistem irigasi tetes.

Mengapa irigasi tetes dapat melajukan produktivitas ?

Seperti namanya, irigasi tetes adalah metode untuk menghemat air dan pupuk dengan membiarkan air menetes pelan-pelan ke akar tanaman, baik melalui permukaan tanah atau langsung ke akar, melalui jaringan katup, pipa dan emitor. Prinsip dasar irigasi tetes adalah memompa air dan mengalirkannya ke tanaman dengan perantaraan pipa-pipa yang dibocorkan, tergantung jarak tanam. Sistem tekanan air rendah ini mengirim air secara lambat dan akurat pada akar-akar tanaman, tetes demi tetes. Pola sistem ini dapat dilakukan beberapa jam setiap hari, tergantung pada jenis tanaman dan lahan.

Metode pemanfaatan irigasi tetes untuk pertanian (sumber: Distan NTB)

Penggunaan sistem irigasi ini dapat menghemat air, meminimalisir penguapan, mengatasi gulma, dan menghemat waktu. Air dan pupuk yang mengalir secara perlahan akan berpusat di akar, sehingga kemungkinan penguapan karena matahari dapat ditekan.  Arah tetesan nan konsisten, membuat oenyebaran gulma penyebab menurunnya produktivitas tidak dapat tumbuh, imbasnya pada kenaikan hasil dari pertanian.

Metode drip irrigation sangat cocok untuk wilayah pertanian yang kering, dan berpasir. Menggunakan metode ini pelaku usaha tani tidak perlu menyiram tanaman dengan metode siram konvensional menggunakan pipa air bertekanan tinggi. Petani punya waktu lebih banyak mengerjakan hal lainnya.

Bisa ditaksir peningkatan hasil produksi jagung, jika sebagian besar lahan menggunakan sistem pengairan tetes. Hal ini tentu berimbas pada sektor peternakan, dan pangan di NTB. Dalam ranah yang lebih besar, teknologi ini nantinya dapat menyerap tenaga kerja yang lebih banyak.

Kemajuan ini sekaligus sebagai pertanda industrialisasi pertanian NTB sedang berkembang.(ZM.win)

Bagikan berita:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *