TNI AL Selidiki Penyelundupan Penyu

FOTO//Postingan warga di media sosial ini menunjukkan perburuan telur dan Penyu di Laut Selatan, Sumbawa Barat begitu marak.

TNI AL  melaporkan Penyu Tempayang dan Penyu Hijau mulai jarang naik untuk bertelur di sepanjang pantai selatan, Talonang. Selain akibat perburuan telur penyu, aktifitas pengeboman juga memicu dampak ekologis yang luar biasa. Dampak pengeboman menimbulkan getaran luar biasa di dalam perairan, sehungga penyu tidak berani naik bertelur.

 

SUMBAWA BARAT—TNI Angkatan Laut (AL) pos Benete,  melaporkan marak terjadinya penyelundupan Penyu Hijau dan Penyu Tempayang (Careta Careta,red) di wilayah perairan Selatan Talonang, Kecamatan Sekongkang Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat.

Komandan Pos TNI AL, Lettu Laut Heru Setiono menegaskan TNI AL khususnya tengah mengintensifkan pengawasan dan penyelidikan terhadap jaringan penyelundup penyu yang melibatkan oknum nelayan luar daerah termasuk pengusaha luar daerah.

Dua anggota TNI AL mempersiapkan pemasangan apartemen ikan di perairan Poto Tano, guna menjaga keberlangsungan ekosistem perairan sekitar.

TNI kata Heru meminta semua pihak ikut membantu AL khususnya pemerintah Sumbawa Barat agar aset berharga penyu ini dapat dilestarikan. Talonang dan sepanjang laut selatan kerap menjadi sasaran eksploitasi Penyu untuk kepentingan Bisnis. Hingga kini, TNI AL tengah menerjunkan pasukan AL untuk memburu pelaku pelaku ini.

” Informasi tentang siapa mereka sudah kita kantongi. Saat ini kita hanya memiliki perahu karet Rubber Boat dengan mesin 40 PK. Kendalanya memang, perahu ini tidak cukup kuat mengarungi laut selatan yang kondisi perairan ganas,” ujarnya.

Penyu Mulai Langka di Laut Selatan

Sementara itu, TNI AL juga melaporkan Penyu Tempayang dan Penyu Hijau mulai jarang naik untuk bertelur di sepanjang pantai selatan, Talonang. Selain akibat perburuan telur penyu, aktifitas pengeboman juga memicu dampak ekologis yang luar biasa. Dampak pengeboman menimbulkan getaran luar biasa di dalam perairan, sehungga penyu tidak berani naik bertelur.

“Inikan menjadi masalah ekologis di perairan kita. Ekosistem perairan bisa rusak dan pantai selatan sebagai daerah konservasi penyu se Asia Tenggara bisa lenyap,” tegasnya.

Sementara itu, informasi yang dihimpun media menyebutkan aparatur Sipil Negara juga dilaporkan terlibat dalam eksploutasi dan bisnis telur penyu ini. Kondisi itu banyak dilaporkan masyarakat dan data intelijen aparat sendiri.

Tokoh masyarakat Maluk, Maladi, 48 tahun meminta Bupati Sumbawa Barat, Ir. H.W.Musyafirin menindak tegas ASN yang terlibat dalam perburuan telur penyu secara masif hingga merusak keberlangsungan populasi penyu di pantai selatan.

Patroli bersama Personel TNI AL POS Benete bersama jajaran DKP setempat.

“Kami prihatin jika kondisi kerusakan ekosistem laut selatan di biarkan pemerintah akan berpengaruh terhadap ekosistem perikanan dan sumber daya laut secara berkelanjutan. Populasi ikan sangat besar itu juga karena dipengaruhi keberadaan penyu dan hiu,”terangnya.

Potensi perikanan laut selatan menurut catatan TNI AL didominasi ikan eksport seperti Kakap, Kerapu, Tuna, Mangali, Lobster Bambu, Lobster Pasir dan Lobster Batu. (ZM.ndy-01)

Bagikan berita:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *