Warga Ini Perkenalkan Rumah Tahan Gempa Berteknologi Korea Jepang

Caption foto//Muhammad Saleh, berpose disela sela proses konstruksi rumah berbahan baku baja ringan, yang murah, ringan dan dan efisien serta ramah lingkungan.

SUMBAWA BARAT—-Bencana alam gempa bumi tentu menjadi bencana yang paling mengancam Indonesia akhir akhir ini.

Presiden Jokowi Widodo menyebutkan, Indonesia masuk dalam Ring Of Fire (Cincin api,red) maka bukan tidak mungkin berbagai upaya ditempuh pemerintah untuk meminimalisir dampak kerusakan dan kerugian material termasuk korban jiwa.

“Perlu ada modifikasi dan Tehnologi simple yang bisa kita terapkan untuk membangun sebuah hunian sederhana namun bergaransi tahan guncangan. Termasuk materialnya ringan, mudah dan ramah lingkungan,” kata, Muhammad Saleh, warga Desa Bukit Damai, Kecamatan Maluk, Sumbawa Barat, Senin (22/10).

Beginilah konstruksi sederhana rumah berbahan baku Baja ringan yang telah di bangun Muhammad Saleh.

Muhammad Saleh, salah seorang warga yang terpanggil dan berfikir menciptakan rumah sederhana berkonstruksi Knockdown (bongkar pasang,red). Bahan yang digunakan hanya cukup dengan baja ringan, spandek tanpa pondasi tanam. Berbahan dinding anyaman atau multyplex (triplek,red). Lantai papan dan atap spandek.

Konstruksi rumah knockdown baja ringan ia  adopsi dengan teknologi konstruksi berteknologi Korea dan Jepang. Muhammad Saleh memiliki pengalaman menjadi Engineer di perusahaan konstruksi Jepang dan Korea selama empat tahun. Dan memiliki sertifikasi resmi.

Bahan baku konstruksi baja ringan merupakan material ramah lingkungan. Disain yang tepat, efisien dan tidak banyak menggunakan material menjadi pertimbangan sendiri perlunya rumah model ini di bangun.

“Anda bayangkan, batu, tanah, pasir kayu, besi, semen merupakan material  pabrikasi dan non pabrikasi yang banyak berdampak terhadap ekploitasi alam. Pasir, batu dan kayu jika digunakan dalam jumlah besar akan memicu eksploitasi lingkungan,” katanya.

Tehnologi rumah dengan menggunakan baja ringan sebenarnya, menurut Saleh, bukan hal yang baru. Konstruksi ini sudah banyak digunakan di negara negara maju seperti eropa dan asia. Tapi, untuk di Indonesia termasuk Sumbawa Barat dan NTB, ini termasuk baru dan belum banyak di uji coba.

“Kita coba tawarkan konsep konstruksi semi panggung rumah tahan gempa yang ramah lingkungan. Pertanggung jawabannya mudah dan proses konstruksinya juga cepat,” terangnya.

Rumah dengan luas  5 kali 7 meter persegi. Menurut Saleh bisa dikerjakan hanya dalam waktu kurang dari satu minggu per unitnya. Selain menghemat material juga menghemat waktu serta ramah lingkungan. Konsep ini juga bisa menghindari penebangan hutan, pohon dan eksploitasi tambang pasir dan batu secara berlebihan. (ZM.Ndy-01)

Bagikan berita:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *