Energi Publik Terkuras, Dari STBM Hingga Bandara Kiantar Tidak Masuk Logika Bisnis

Oleh : Firman Yogi Dinata (Ketua Gerakan Muda Sumbawa Barat)

Dinamika publik dalam tiga bulan terakhir ini seperti terkuras habis dalam pertempuran narasi dan diksi, baik secara verbal didarat maupun secara tulisan di media sosial. Isu yang paling santer terdengar adalah soal penuntasan STBM pilar 4 & 5 dan rencana pembangunan bandar udara di Kiantar kecamatan Poto Tano.

Bahkan Bupati Sumbawa Barat sendiri membicarakannya sebagai sesuatu yang penting, strategis dan pasti untuk diinformasikan, setidaknya bisa dibuktikan ketika beliau menggunakan podium Idhul Fitri sebagai medium verifikasi kepada masyarakat.

Bahkan belakangan ini menggunakan tenaga tambahan baik malalui media, parah tokoh, para anggota DPR bahkan para akademisi dikerahkan untuk menggiring opini publik kearah yang positif.

Framing semacam ini disebut dengan strategi intersubjektif yang tergatung kepada komunikasi kolektif; Semakin banyak dan semakin sering digaungkan maka isu tersebut akan membentuk mindset baru dalam benak masyarakat seolah olah itulah kredo segala galanya hidup ini,
lalu kita lupa dengan ancaman krisis ekonomi, lalu kita lupa dengan janji smelter, lalu kita lupa dengan demokrafi bonus, lalu kita lupa dengan roster kerja, lalu kita lupa dengan kapal cepat dan dermaga F3, lalu kita lupa dengan banyaknya bangunan bangunan yang mangkrak dan gagal dimanfaatkan yang akhirnya merugikan keuangan negara dan sebagainya. Setidaknya ini persis dengan cara mereka membesar besarkan jargon IJS, KSB baik dan luar biasa yang faktanya kontradiksi itu.

Tapi anehnya, anatomi dari wacana wacana tersebut sering kali gagal diperjuangkan dan kehilangan trust publik ditengah jalan karena idenya tidak matang dan tidak adanya kalkulasi probabilitas.

Kita ambil contoh program STBM misalkan; secara teknis pelaksanaannya kita melihat adanya upaya pemanfaatan power volunterisme atau praktik penggunaan tenaga sukarelawan sebagai bahan bakar utama dalam penuntasan prorgram pemerintah.

Secara penganggaran juga aneh, pemerintah membebankannya kepada ASN dan PTT yang saya sendiri tidak mengerti bagaimana kesepakatannya dengan mereka.

Tapi publik menangkapnya sebagai sebuah pertunjukan opertunisme dan pengurangan tanggung jawab pemerintah sebagai pemegang anggaran. Kalau pun niat Bupati ingin meminta balas jasa atau loyalitas kepada para birokrat atas kebijakan kenaikan gaji atau tunjangan, ya gak gitu cara dan tempatnya, inikan terkesan memeras.

Belum lagi soal bandara Kiantar yang gak jelas itu.

Bagaimana bisa seorang Bupati dengan gegap gempitanya melakukan konferensi pers kepada media dan mengumumkan bahwa pembangunan bandara sepenuhnya ditanggung investor yang bernama AMNT, beberapa hari kemudiam pernyataannya diralat bahwa investornya bukan AMNT, malu dong kalau Bupatinya saja tidak bisa memberikan kepastian bagaimana masyarakatnya tidak berdebat soal manfaat atau tidak manfaat.

Dan yang paling penting dari semua proses ini adalah bahwa pemerintah saat ini kehilangan trust, dan masyarakatnya merasa skeptis atas preseden yang dilakukan sebelum sebelumnya.

KSB memamg butuh investasi, bila perlu sebanyak banyaknya investasi masuk agar putaran roda perekonomian regional ini kembali pulih dan meningkat, tapi kita juga musti memastikan agar putaran roda ekonomi itu tidak menggilas kepentingan rakyat. Agar putaran ekonomi itu tidak menyebabkan apa yang disebut dengan “too many peopel left behind”.

Masalahnya, pembicaraan soal investasi terkadang hanya menyuguhkan manfaatnya saja. Bahwa investasi akan membuka lapangan kerja, pajak untuk kas negara atau daerah, alih teknelogi dan seterusnya.

Padahal tidak jarang terjadi karena dipandu logika profit, investasi mendatangkan dampak yang tidak baik bagi kepentingan rakyat banyak dan lingkungan.

Maka dalam kesempatan ini saya ingin mengajak Bupati berpikir dan mempertegas cara memandang investasi, karena sejatinya pembangunan itu harus berdasar pada kalkulasi bukan spekulasi;

Pertama, besar kecilnya manfaat investasi tergantung pada jenis investasinya. Kita ambil contoh investasi bandara yang jatuh pada lahan produktif misalkan. Investasi jenis ini tidak menyerap banyak tenaga kerja, tapi membutuhkan lahan yang luas karena bersifat investasi padat modal bukan padat karya.

Akibatnya, tentu saja banyak orang yang tersingkir dari lapangan pertanian tidak sebanding dengan mereka yang terserap ke dalam lapangan baru, konsekuensinya akan banyak meningkatkan pengangguran. Investasi jenis ini alih alih membuka lapangan kerja justru akan meningkatkan rasio pengangguran di Sumbawa Barat.

Yang kedua adalah domino efek dari membesarnya angka pengangguran itu. Karena jumlah yang menganggur lebih besar dari yang terserap bekerja, maka daya tawar buruh dipasar tenaga kerja menjadi rendah. Salah satu konsekuensinya upah buruh menjadi renda.

Yang ketiga, sering kali investasi menghasilkan dan membawa keluar laba dalam jumlah besar tetapi rakyat di daerah investasi itu justru tetap miskin. Coba aja kita cek laba bersih dari PT. AMNT yang dibawa keluar setiap tahunnya. Apakah tambang pengasil emas nomer dua di Indonesia ini memberikan kontribusi besar terhadap ekonomi dan penyerapan tenaga kerja yang kurang dari 10% dari jumlah rakyatnya? Atau investasi semacam riteil modern Indomart/Alfamart sama saja duitnya besar tapi gak mutar di KSB.

Keempat, investasi belum tentu sejalan dengan cita cita nasional dalam mewujudkan kemakmuran rakyat. Sebab cara berpikir investor adalah logika profit atau keinginan untuk menumpuk keuntungan sebesar besarnya dengan modal sekecil kecilnya. Atas faktor tersebut maka investor cenderung akan menginvestasikan modalnya pada sektor ekonomi yang menggiurkan.

Hingga hari ini sebagian besar investor masih berbondong bondong ingin menanamkan modalnya ke sektor energi dan industri ekstraksi.

Maka niat Bupati untuk membawa masuk investor bandar udara di Kiantar itu menjadi gugur dengan sendirinya dan terkesan omong kosong, tidak memiliki alasan yang kuat karena tidak masuk dalam logika bisnis, kecuali ada tujuan lain.

Sekali lagi saya ingatkan bahwa KSB memang membutuhkan investasi sebesar besarnya dan sebanyak banyaknya, tapi harus dipastikan agar investasi itu menguntungkan rakyat Sumbawa Barat, menambah kas daerah dan tidak merusak lingkungan.

Yang terakhir harapan saya kepada Bupati Sumbawa Barat agar menghentikan polemik dan keributan publik soal bandara yang tidak pasti itu. karena sangat menguras energi.

Hari ini rakyat dalam kondisi krisis keuangan dan sumber keuangan, membutuhkan perbaikan nasib dan sentuhan langsung pemerintah yang kongkrit, cepat dan pasti. Jangan rakyat KSB ini terus menerus diajak gotong royong dan diberikam janji janji manis dan khayalan.
Wallahualam

Bagikan berita:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *